Penulis: Yusuf Hamdani Abdi, M.Psi || Anggota MPKSDI PDM Ponorogo || Kaprodi Psikologi Islam Fakultas Agama islam Universitas Muhammadiayah Ponorogo
Peringatan Hari Muhammadiyah yang di selenggarakan sudah di laksanakan kali ke dua oleh Pimpinan Daerah Ponorogo, bertempat di Universitas Muhammadiyah Ponorogo, seringkali hanya dijadikan momen seremonial, padahal di balik perjalanan lebih dari satu abad tersimpan pertanyaan mendalam: mengapa nilai-nilai yang dicetuskan KH. Ahmad Dahlan mampu bertahan, terlembaga, dan terus diwariskan hingga kini? Banyak organisasi lahir dan lenyap, namun Muhammadiyah tetap berdiri tegak. Rahasianya bukan pada kekuatan semata, melainkan pada proses bagaimana gagasan luhur itu dibangun bersama, menjadi kenyataan yang hidup, dan membentuk karakter generasi demi generasi persis seperti yang dijelaskan dalam Teori Konstruksi Sosial atas Realitas karya Peter L. Berger dan Thomas Luckmann.

Memahami Muhammadiyah dari Kacamata Konstruksi Sosial
Berger dan Luckmann menyatakan inti sederhana: masyarakat adalah ciptaan manusia, menjadi kenyataan yang tampak berdiri sendiri, lalu kembali membentuk kehidupan manusia. Tidak ada lembaga yang lahir dengan sendirinya; semua dibangun, dipelihara, dan dapat diperbarui. Inilah kerangka yang sangat tepat untuk membaca bagaimana Muhammadiyah tumbuh menjadi gerakan sosial-keagamaan yang kokoh dan terus relevan.
Tiga Proses Pembentukan Realitas Muhammadiyah
Pertumbuhan dan keberlangsungan Muhammadiyah terjadi melalui tiga tahapan dialektis yang saling berkaitan:
Eksternalisasi: Nilai Menjadi Amal Nyata
Apa yang semula hanya berupa gagasan tajdid, cinta ilmu, dan kepedulian sosial di hati KH. Ahmad Dahlan, dituangkan ke dalam tindakan nyata. Sekolah didirikan, rumah sakit dibuka, pelayanan sosial digerakkan. Inilah momen ketika nilai-nilai subjektif menjadi karya yang tampak dan bermanfaat bagi banyak orang.
Objektivasi: Amal Menjadi Lembaga yang Mandiri
Seiring berjalannya waktu, pola amal dan nilai tersebut diulang, disepakati, dan diikuti secara meluas. Muhammadiyah kini bukan lagi sekadar gagasan satu tokoh, melainkan lembaga yang memiliki aturan, jaringan, amal usaha, dan kepercayaan masyarakat. Ia tampak sebagai kenyataan yang “ada di luar sana”, berjalan terus meskipun generasi pendiri telah tiada.
Internalisasi: Lembaga Menjadi Kesadaran dan Identitas
Nilai yang telah terlembaga itu diserap kembali oleh setiap warga melalui keluarga, pendidikan, organisasi, dan keteladanan. Apa yang semula milik pendiri, kini menjadi kesadaran pribadi generasi penerus merasa Islam Berkemajuan adalah jalan hidupnya, bukan sekadar aturan dari luar.
Pelajaran Penting untuk Hari Muhammadiyah
Menyadari bahwa Muhammadiyah adalah hasil konstruksi sosial yang terus dipelihara, maka peringatan Hari Muhammadiyah seharusnya menjadi momen refleksi mendalam:
- Jangan biarkan lembaga menjadi benda mati, rutinitas tanpa makna akan melumpuhkan semangat tajdid. Pahami bahwa semua aturan dan amal usaha dibangun untuk melayani manusia, bukan sebaliknya.
- Berani memperbarui wujud pelayanan, karena zaman terus berubah, maka bentuk konstruksi pun harus ikut berkembang. Masuklah ke ruang-ruang baru: teknologi, ekonomi syariah, lingkungan hidup, dan dunia digital tanpa kehilangan nilai dasarnya.
- Tanamkan makna pada generasi muda, pastikan nilai Islam Berkemajuan bukan sekadar seragam atau jargon, melainkan kesadaran yang hidup di hati dan terwujud dalam perilaku sehari-hari.
- Jaga arah tujuan yang luhur, seluruh amal dan lembaga harus senantiasa diarahkan untuk memanusiakan manusia, membebaskan dari kebodohan dan kemiskinan, serta mengaitkan setiap langkah kepada nilai-nilai ketuhanan.
Hari Muhammadiyah mengingatkan kita: Islam Berkemajuan bukanlah kenyataan yang turun dari langit, melainkan hasil karya dan kesadaran manusia yang terus dibangun bersama. Apa yang dibangun oleh pendahulu dapat terus diperbarui dan diperluas oleh kita hari ini, asalkan tiga proses amal nyata, kelembagaan yang kokoh, dan kesadaran yang hidup tetap berjalan selaras.
Mari jadikan momen peringatan ini sebagai awal langkah nyata: pahami kembali nilai dasar Muhammadiyah, wujudkan dalam amal nyata di lingkunganmu, dan sampaikan maknanya kepada generasi muda. Dengan begitu, kita turut membangun realitas Islam yang mencerahkan bagi umat, bangsa, dan segenap alam.