Agustus yang Ramai, Nasionalisme yang Sepi

Penulis: Hanif Ikhsani, M.Pd. || Pengamat Sosial dan Pendidikan

 

Agustus selalu datang dengan wajah yang akrab. Bendera Merah Putih mulai berkibar di tepi jalan. Gapura-gapura kampung dihias lebih semarak bertabur lampu kela-kelip. Anak-anak berlatih mengikuti lomba, ibu-ibu menyiapkan aneka perlombaan, sisanya turut mempersiapkan kostum karnaval anak balitanya, para pemuda mendirikan panggung hiburan, sebagian lagi menggelar makanan khas berpakaian masa kolonial dahulu. sementara pengeras suara di sudut kampung kembali memutar lagu-lagu perjuangan. Ada suasana yang hangat, penuh kebersamaan, dan selalu dirindukan.

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Justru di sanalah kekuatan bangsa ini. Perayaan kemerdekaan telah menjadi tradisi yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Di tengah perbedaan pilihan politik, latar belakang, bahkan keyakinan, masyarakat masih dapat bergotong royong menyambut hari lahir bangsanya.

Namun, di tengah kemeriahan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang barangkali jarang lagi kita ajukan.

Apakah kita masih memahami mengapa semua itu dilakukan?

Mengapa setiap Agustus kita memasang bendera? Mengapa anak-anak berlomba balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, atau panjat pinang? Mengapa setiap tahun kita mengulang ritual yang hampir sama?

Sebagian besar mungkin akan menjawab, “Karena memang sudah tradisinya.”

Jawaban itu tidak keliru. Tetapi justru di sanalah persoalannya. Ketika sebuah tradisi dijalankan hanya karena kebiasaan, perlahan-lahan makna yang dahulu melahirkannya mulai memudar.

Banyak kisah berkembang bahwa balap karung melambangkan kesederhanaan rakyat pada masa penjajahan. Panjat pinang dipahami sebagai sindiran terhadap pesta-pesta kolonial yang mempertontonkan kemewahan di hadapan rakyat pribumi. Berbagai permainan rakyat juga diyakini mengajarkan kerja sama, ketangguhan, sportivitas, dan semangat pantang menyerah. Terlepas dari kuat atau tidaknya dasar historis setiap penafsiran itu, satu hal tidak dapat disangkal bahwa tradisi tersebut lahir bukan sekadar untuk menghibur, tetapi juga untuk menanamkan semangat perjuangan.

Sayangnya, semangat itu semakin jarang diceritakan. Yang tersisa sering kali hanyalah perlombaannya.

Anak-anak berlomba tanpa pernah diajak memahami maknanya. Orang dewasa tertawa menyaksikan tingkah peserta yang lucu, tetapi lupa menjelaskan nilai yang hendak diwariskan. Kita sibuk menyiapkan hadiah, tetapi jarang menyiapkan ruang untuk berbicara tentang arti kemerdekaan. Akibatnya, Agustus menjadi ramai, tetapi belum tentu membuat nasionalisme bertumbuh.

Padahal, tantangan Indonesia hari ini jauh berbeda dengan delapan puluh satu tahun silam. Jika dahulu musuh bangsa tampak jelas dalam wujud penjajahan, kini ancaman itu hadir dalam bentuk yang lebih halus. Korupsi masih menggerogoti kepercayaan publik. Hoaks dan ujaran kebencian menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Budaya instan perlahan mengikis etos kerja, ruang digital semakin miskin adab berdialog. Keteladanan para pemimpin negeri menjadi barang langka. Di banyak tempat, kita masih menyaksikan rendahnya disiplin, lunturnya kejujuran, melemahnya kepedulian sosial, dan semakin tipisnya keteladanan.

Semua itu tidak mengurangi sejengkal pun wilayah Indonesia. Tidak menurunkan Sang Merah Putih dari tiangnya. Namun sedikit demi sedikit dapat menggerus sesuatu yang jauh lebih mendasar bernama “karakter kebangsaan”.

Barangkali di sinilah makna kemerdekaan perlu kita baca kembali..!

Kemerdekaan bukan hanya berarti bangsa ini berhasil mengusir penjajah dari tanah airnya. Kemerdekaan juga berarti keberanian membebaskan diri dari segala hal yang menghambat bangsa ini menjadi lebih bermartabat. Membebaskan diri dari korupsi yang mengkhianati amanah. Membebaskan diri dari kebohongan yang merusak kepercayaan. Membebaskan diri dari kemalasan yang menghambat kemajuan. Membebaskan diri dari kebencian yang meretakkan persaudaraan. Dan membebaskan diri dari kebiasaan menyalahkan orang lain tanpa pernah memperbaiki diri sendiri.

Mengisi kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai mengenang jasa para pahlawan. Memahami kemerdekaan berarti melanjutkan perjuangan mereka dengan cara yang sesuai dengan zamannya. Jika dahulu mereka mempertaruhkan nyawa agar Indonesia berdiri sebagai bangsa yang merdeka, maka generasi hari ini mempertaruhkan integritas agar kemerdekaan itu tidak kehilangan martabat. Pada posisi inilah pendidikan dituntut mampu menampilkan wajahnya memegang peranan yang tidak tergantikan. Bukan sebaliknya, larut dalam tradisi perayaan seperti umumnya, namun lupa menitipkan pesan historis kepada anak bangsa.

Nasionalisme tidak lahir dari banyaknya bendera yang berkibar, melainkan dari karakter yang dibentuk setiap hari. Ia tumbuh ketika anak-anak belajar jujur meski tidak diawasi, ketika mereka menghargai perbedaan tanpa saling membenci, saat ilmu digunakan untuk mengabdi, dan ketika mereka melihat keteladanan nyata dari orang tua, guru, pemimpin, serta seluruh orang dewasa di sekitarnya.

Karena itu, tanggung jawab mengisi kemerdekaan tidak hanya berada di pundak pemerintah atau sekolah. Keluarga adalah ruang pendidikan pertama. Sekolah memperkuatnya melalui budaya belajar dan keteladanan. Masyarakat menjaganya melalui kepedulian sosial. Media membentuk cara berpikir publik. Para pemimpin memberi contoh melalui integritas. Ketika semua mengambil peran, kemerdekaan tidak lagi berhenti sebagai peringatan tahunan, melainkan hidup sebagai budaya bangsa.

Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan upacara, lomba, ataupun panggung hiburan. Yang mulai kita kekurangan adalah ruang-ruang yang menghidupkan makna kemerdekaan. Padahal bangsa yang besar tidak hanya mampu mewariskan tradisi, tetapi juga mampu mewariskan alasan mengapa tradisi itu terus dijaga.

Mungkin karena itulah setiap Agustus kita perlu bertanya kembali kepada diri sendiri:

apakah kita sedang merayakan kemerdekaan, atau hanya mengulang sebuah kebiasaan yang perlahan kehilangan makna?

Jika pertanyaan itu mampu kita jawab dengan jujur, maka bendera yang berkibar di sepanjang jalan tidak lagi sekadar menjadi hiasan. Ia akan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah peristiwa yang selesai pada tahun 1945, melainkan amanah yang harus terus diperbarui dalam setiap generasi.

Sebab pada akhirnya, ukuran cinta kepada Indonesia tidak terletak pada seberapa meriah kita merayakan 17 Agustus, tetapi pada seberapa sungguh kita menjaga nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para pendiri bangsa.

Kemerdekaan tidak akan kehilangan makna karena bangsa ini berhenti mengadakan lomba. Kemerdekaan akan kehilangan makna ketika kita terus merayakannya, tetapi lupa mewariskan alasan mengapa ia dahulu diperjuangkan.

Dirgahayu ke-81 Indonesiaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *