Penulis: Agus SetyoBudi, S.E., MM.
Prestasi material dan kelembagaan Muhammadiyah saat ini sudah tidak di ragukan lagu,dan tidak bisa terbantahkan , Ekspansi rumah sakit, ribuan sekolah, hingga berdirinya amal usaha di mancanegara menjadi bukti nyata kebesaran Persyarikatan. Belum lagi kiprah para tokoh Muhammadiyah yang menempati posisi-posisi strategis di panggung publik dan pemerintahan. Namun, di balik gegap gempita pencapaian institusional dan euforia kekuasaan tersebut, ada satu alarm peringatan yang kerap kita abaikan krisis kaderisasi yang kian mengkhawatirkan.
Sejarah mencatat, K.H. Ahmad Dahlan merintis gerakan ini dengan visi utama membangun kualitas manusia, bukan sekadar mendirikan infrastruktur fisik. Sayangnya, realitas hari ini memperlihatkan pergeseran fokus yang meresahkan. Perhatian kita terlalu tersedot pada upaya membesarkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan memelihara jejaring relasi, sehingga tugas fundamental untuk melahirkan kader penerus, pelangsung, dan penyempurna Persyarikatan justru terpinggirkan.
Indikasi paling kentara adalah fenomena korportisasi di dalam tubuh AUM yang perlahan menggerus ruh pergerakan. Orientasi kepemimpinan AUM kini lebih banyak tersita oleh obsesi terhadap akreditasi, margin keuntungan, dan ekspansi fisik, sementara pembinaan kader ditempatkan sebagai agenda sampingan.
Kondisi ini memunculkan sebuah ironi kampus dan sekolah kita berdiri menjulang, tetapi justru kesulitan menemukan pendidik atau pengelola yang benar-benar menjiwai nafas Kemuhammadiyahan. Atas nama efisiensi dan profesionalisme, kita kerap lebih bangga merekrut tenaga dari luar, sementara tunas-tunas muda dari Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) seperti IPM, IMM, atau Pemuda Muhammadiyah sering kali dinomorduakan dengan alasan klise “belum matang”. Jika AUM menjelma menjadi menara gading yang memutus akses bagi AMM, dari rahim mana kita akan memanen kader penerus yang memiliki ikatan batin kuat dengan Persyarikatan?
Problem selanjutnya adalah tersumbatnya keran regenerasi. Kenyamanan berada di pucuk pimpinan baik di level struktural Persyarikatan maupun AUM kerap melenakan generasi tua untuk memberikan ruang bagi yang muda. Pola kepemimpinan cenderung elitis, berputar pada figur-figur lama secara berulang selama berperiode-periode.
Akibatnya, jurang pemisah antargenerasi semakin menganga. Kader-kader muda dibiarkan berjuang sendiri mencari panggung, alih-alih dirangkul, dibimbing, dan disiapkan untuk menerima tongkat estafet. Padahal, makna sejati dari sosok pelangsung bukanlah mereka yang sekadar mengambil alih kursi saat generasi tua purna tugas, melainkan generasi yang secara sengaja dididik, dilibatkan, dan diberi kepercayaan penuh sejak para pendahulunya masih memimpin.
Tantangan dakwah Muhammadiyah ke depan telah bertransformasi. Kita tidak lagi sekadar berhadapan dengan TBC (Tahayul, Bid’ah, Churafat) secara konvensional, tetapi harus merespons disrupsi teknologi, krisis ekologi, ketimpangan ekonomi, hingga dekadensi moral di era post-truth.
Pada titik inilah urgensi melahirkan kader penyempurna menjadi tak bisa ditawar. Kader penyempurna adalah sosok yang daya kritis dan kapasitas tajdid (pembaruan)-nya mampu melampaui generasi sebelumnya. Namun, harapan ini akan sulit terwujud apabila iklim organisasi kita saat ini lebih memfavoritkan kader yang sekadar “patuh” dan “nurut” secara birokratis, serta alergi terhadap kader-kader kritis yang membawa gagasan progresif.
Kini saatnya seluruh elemen pimpinan, termasuk para rektor dan direktur AUM, mengembalikan kaderisasi sebagai urat nadi Persyarikatan. Ruang kiprah bagi AMM harus dibuka lebar, difasilitasi, dan didistribusikan ke pos-pos strategis. Jangan sampai sejarah mencatat kita sebagai generasi yang piawai membangun kemegahan fisik Muhammadiyah, tetapi gagal mewariskan manusia-manusia tangguh yang layak merawatnya. Sebab, organisasi yang acuh mencetak generasi peneru, sesungguhnya sedang menulis surat kematiannya sendiri.