Implementasi Spirit QS. Ar-Ra’d Ayat 11 dalam Menyiapkan Kader Ideologis yang Profesional
Penulis: Abdul Rhosid “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka…
Penulis: Abdul Rhosid “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka…
Penulis: Hanif Ikhsani, M.Pd. Di berbagai daerah di Indonesia, kita kerap mendengar kabar tentang seseorang yang dituduh mencuri lalu menjadi…
Dr. Katni, M.Pd.I || Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Ponorogo Budaya luhur tidak pernah lahir dari ruang hampa, melainkan tumbuh dari…
Penulis: Fika Karunia Rufaidah Muhammadiyah melintasi zaman bukan semata berdiri di atas megahnya amal usaha atau kokohnya benteng organisasi. Persyarikatan…
Penulis: Soenarno, M.Pd Kader layaknya anak kecil yang harus melalui proses panjang untuk memantaskan diri. Memegang kepemimpinan bukanlah sekadar duduk…
Penulis: Sigit Hariyanto, M.E. Ada kebanggaan ketika melihat bangunan-bangunan Muhammadiyah berdiri megah: sekolah, kampus, rumah sakit, masjid, panti sosial, hingga…
Penulis: Dr. Katni, MPd.I || Anggota MPKSDI PWM Jatim Muhammadiyah sejak awal berdirinya tidak hanya membangun amal usaha, tetapi…
Penulis: Agus SetyoBudi, S.E., MM. Prestasi material dan kelembagaan Muhammadiyah saat ini sudah tidak di ragukan lagu,dan tidak bisa terbantahkan…
Penulis: Miftahul Rahman Kaderisasi adalah jantung kehidupan Muhammadiyah. Sejak berdiri lebih dari satu abad lalu, Persyarikatan ini mampu bertahan bukan…
Penulis: Heri Susanto Sebagai bagian dari gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, kita sering mendengar kosa kata panggung perkaderan: Agent of Change, Pencerah, Generasi Penerus Sang Surya, sampai Pilar Bangsa. Luar biasa megah, bukan? Namun, kalau kita jujur pada diri sendiri dan melihat ke bawah saat berdiri… apa yang kita lihat? Apakah sepasang kaki yang kokoh, atau justru ujung sepatu yang tertutup oleh perut buncit? Sebagai salah satu gym enthusiast, ada satu hal mendasar yang sering menjadi renungan di antara deretan dumbbell dan barbell: Siapkah kita menjadi kader “Generasi Penerus Sang Surya”, jika mengubah gaya hidup diri sendiri saja kita malas? Bukan Cuma Soal Body Aesthetic, Ini Soal Kapasitas Dakwah Mari kita perjelas dari awal. Tulisan ini bukan untuk body shaming. Sama sekali bukan. Tulisan ini adalah bentuk pengingat persaudaraan. Isu obesitas dan gaya hidup sedentary (kurang gerak) di lingkungan kita itu nyata. Kita rajin rapat sampai larut malam, tapi konsumsinya gorengan dan teh manis pekat. Kita mahir menyusun Grand Design organisasi, tapi napas sudah ngos-ngosan baru naik tangga lantai dua gedung dakwah. Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, memelopori gerakan yang tangguh, bergerak cepat, dan relevan. Dakwah butuh stamina. Menjadi Agent of Change butuh fisik yang siap tempur. Gym: Laboratorium Perkaderan Diri Banyak yang menganggap gym cuma tempat ajang pamer otot atau gaya-gayaan. Padahal, kalau dimaknai lebih dalam, proses di tempat fitness itu mirip sekali dengan perkaderan di Muhammadiyah: Disiplin dan Konsistensi: Di gym, tidak bisa dapat otot dalam semalam. Begitu juga dalam organisasi, tidak ada kader yang langsung matang tanpa proses. Melawan Rasa Malas: Mengangkat beban berat melatih mental untuk tidak gampang menyerah saat menghadapi kendala. Menjaga Amanah: Tubuh adalah titipan Allah SWT. Mengabaikan kesehatan sampai obesitas berarti kita kurang bertanggung jawab atas amanah fisik yang diberikan-Nya. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda: اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah (HR. Muslim). Kuat di sini tentu mencakup iman, pikiran, dan juga fisik. Saatnya kader berolahraga …