Pengkaderan Bukan untuk Mewarisi Jabatan, tetapi Memperluas Perjuangan

Penulis: Miftahul Rahman

Kaderisasi adalah jantung kehidupan Muhammadiyah. Sejak berdiri lebih dari satu abad lalu, Persyarikatan ini mampu bertahan bukan semata karena kuatnya organisasi, melainkan karena tidak pernah berhenti melahirkan kader. Dari rahim kaderisasi itulah lahir guru, ulama, dokter, akademisi, birokrat, pengusaha, aktivis sosial, hingga pemimpin bangsa yang membawa nilai-nilai Islam dalam ruang pengabdiannya.

Namun demikian, ada satu paradigma yang menurut saya perlu dikaji ulang. Selama ini, pengkaderan sering dipahami sebagai proses menyiapkan penerus kepemimpinan di Persyarikatan atau Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Tidak salah, tetapi jika pemahaman itu menjadi tujuan utama, maka kaderisasi justru kehilangan makna yang lebih besar.

Tanpa disadari, sebagian kader tumbuh dengan orientasi bahwa setelah mengikuti berbagai jenjang pengkaderan, meningkatkan kompetensi, dan mengabdi cukup lama, maka kelak mereka akan memperoleh posisi tertentu dalam organisasi atau AUM. Harapan itu manusiawi. Akan tetapi, realitas tidak selalu demikian.

Jumlah kader yang berkualitas terus bertambah, sedangkan ruang kepemimpinan tetap terbatas. Tidak semua orang dapat menjadi kepala sekolah, rektor, direktur rumah sakit, ketua persyarikatan, atau pimpinan amal usaha. Ketika kesempatan itu tidak datang, sebagian kader merasa kecewa. Bahkan tidak sedikit yang kemudian menjauh dari organisasi karena merasa pengabdiannya tidak dihargai. Padahal, persoalan sesungguhnya bukan karena kaderisasi gagal, melainkan karena orientasi kita yang terlalu sempit.

Kaderisasi Melahirkan Misi, Bukan Ambisi
KH. Ahmad Dahlan tidak pernah mendidik murid-muridnya agar sekadar menggantikannya memimpin Muhammadiyah. Beliau membangun manusia yang memiliki keberanian berpikir, kepekaan sosial, dan kemauan menyelesaikan persoalan umat. Dari semangat itulah lahir gerakan pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan dakwah yang terus berkembang hingga hari ini. Artinya, sejak awal kader Muhammadiyah dipersiapkan menjadi pelaku perubahan, bukan sekadar pewaris jabatan.

Prof. Haedar Nashir berulang kali menegaskan bahwa kader Muhammadiyah harus menjadi “manusia pembelajar” sekaligus “manusia pencerah”. Seorang kader dituntut memiliki keluasan ilmu, integritas moral, dan kemampuan memberi solusi bagi masyarakat. Tidak ada batasan bahwa pengabdian itu hanya dilakukan melalui struktur organisasi.

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Ilmu Sosial Profetik yang dikembangkan Kuntowijoyo. Menurutnya, ilmu dan gerakan Islam harus melahirkan transformasi sosial melalui tiga misi besar: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Ketiga misi itu dapat diwujudkan di mana saja: di sekolah, kampus, kantor pemerintahan, dunia usaha, industri, maupun masyarakat, bukan hanya di ruang rapat organisasi. Ukuran keberhasilan kaderisasi bukanlah berapa banyak kader yang memperoleh jabatan, tetapi berapa banyak kader yang menghadirkan perubahan.

Lapangan Dakwah Tidak Pernah Sempit
Allah Swt. berfirman,

“Maka berlomba-lombalah dalam berbagai kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148).

Ayat ini menggunakan kata khairat (berbagai kebaikan), bukan satu jenis amal tertentu. Ini menunjukkan bahwa ruang pengabdian seorang muslim sangat luas. Sedangkan Rasulullah SAW juga bersabda,

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. ath-Thabrani).

Hadis ini menarik karena ukuran kemuliaan bukanlah jabatan, melainkan manfaat.

Dengan demikian, jika seorang kader Muhammadiyah menjadi kepala sekolah negeri yang berintegritas, dosen yang melahirkan inovasi, birokrat yang bersih, pengusaha yang jujur, hakim yang adil, peneliti yang produktif, atau pemimpin perusahaan yang amanah, sesungguhnya ia tetap sedang menjalankan misi Muhammadiyah. Dakwah tidak selalu dilakukan melalui mimbar. Kadang ia hadir melalui kebijakan, karya ilmiah, inovasi teknologi, pelayanan publik, bahkan keteladanan dalam bekerja.

Dari Perebutan Kursi Menuju Perlombaan Kualitas Paradigma baru kaderisasi harus mengubah orientasi dari position oriented menjadi mission oriented. Kader tidak lagi belajar hanya agar memperoleh jabatan, tetapi agar memiliki kualitas yang membuat dirinya dibutuhkan di mana pun berada.

Paradigma ini justru akan melahirkan daya saing yang lebih tinggi. Seorang kader akan terdorong menguasai bahasa asing, teknologi, kepemimpinan, riset, manajemen, komunikasi, dan berbagai kompetensi profesional. Ia sadar bahwa jika tidak memperoleh ruang di Persyarikatan, masih terbentang luas medan pengabdian di luar sana yang membutuhkan insan berkarakter.

Ironisnya, ketika kader hanya bercita-cita menjadi pemimpin di lingkungan sendiri, kompetisi yang terjadi sering kali berhenti pada perebutan posisi. Sebaliknya, ketika kader dipersiapkan menjadi pemimpin bangsa, pemimpin umat, dan pemimpin peradaban, kompetisi berubah menjadi perlombaan meningkatkan kualitas diri.

Inilah kader yang diharapkan Muhammadiyah: bukan kader yang menunggu tempat, tetapi kader yang menciptakan manfaat; bukan kader yang kecewa karena kehilangan jabatan, tetapi kader yang selalu menemukan ruang pengabdian.

Sudah saatnya kita memaknai kaderisasi secara lebih luas. Muhammadiyah tidak sedang mencetak calon pengisi struktur organisasi semata, melainkan membangun manusia yang mampu membawa nilai-nilai Islam Berkemajuan ke seluruh sendi kehidupan.

Jika hari ini seorang kader belum memperoleh posisi di Amal Usaha Muhammadiyah atau Persyarikatan, bukan berarti perjuangannya berhenti. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan medan dakwah yang lebih luas, tempat nilai-nilai Muhammadiyah hadir melalui kompetensi, profesionalisme, dan keteladanan yang ia miliki.
Sebab pada akhirnya, kebesaran Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh siapa yang duduk di dalam organisasinya, tetapi juga oleh siapa saja yang membawa ruh Muhammadiyah untuk mencerahkan kehidupan di mana pun mereka berada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *