Antara Bangunan yang Menjulang dan Pondasi yang Terlupakan

Penulis: Sigit Hariyanto, M.E.

Ada kebanggaan ketika melihat bangunan-bangunan Muhammadiyah berdiri megah: sekolah, kampus, rumah sakit, masjid, panti sosial, hingga berbagai Amal Usaha Muhammadiyah yang terus berkembang. Semua itu adalah buah dari wakaf, infak, sedekah, kerja keras, dan pengorbanan panjang para pendahulu.

Namun, di tengah kemegahan itu, ada pertanyaan yang patut kita renungkan:

Apakah semakin tinggi bangunan Muhammadiyah, semakin kokoh pula pondasi kadernya?

Sebab, kita sering kali lebih mudah mengagumi sesuatu yang terlihat: gedung, aset, fasilitas, dan capaian kelembagaan. Sementara sesuatu yang tidak kasatmata: kaderisasi, ideologi, ketulusan, militansi, loyalitas, dan pembinaan kader sering bekerja dalam senyap.

Padahal, bangunan yang tinggi tidak akan bertahan tanpa pondasi yang kuat.

Muhammadiyah tidak lahir dari gedung. Ia lahir dari gagasan, keyakinan, keikhlasan, ilmu, dan keberanian untuk melakukan perubahan. Gedung, sekolah, rumah sakit, kampus, panti, dan Amal Usaha hanyalah sarana. Manusialah yang menghidupkan ruh perjuangannya, dan kader adalah salah satu pondasi terpentingnya.

Karena itu, ukuran kemajuan Muhammadiyah tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak gedung yang dibangun, aset yang dimiliki, atau Amal Usaha yang berkembang. Kita juga perlu bertanya:

Berapa banyak kader yang tumbuh? Berapa banyak yang mendapatkan ruang untuk belajar, memimpin, dan berkreasi? Berapa banyak yang disiapkan untuk melanjutkan estafet perjuangan?

Jangan sampai kader hanya dicari ketika organisasi membutuhkan panitia, tenaga, penggalangan dana, atau pengisi struktur. Kader bukan sekadar sumber daya yang digunakan ketika diperlukan. Kader adalah investasi jangka panjang persyarikatan.

Kita tentu harus terus membangun gedung, mengembangkan Amal Usaha, memperkuat aset, dan meningkatkan profesionalitas kelembagaan. Tetapi bersamaan dengan itu, kita harus membangun manusia yang disebut “kader” yang akan menjaga semuanya.

Bangun kapasitasnya. Bangun karakternya. Bangun ideologinya. Bangun kompetensinya. Bangun kepemimpinannya.

Sebab, Amal Usaha dapat diwariskan. Tetapi tanpa kader yang memiliki ideologi, integritas, kompetensi, dan komitmen, semua warisan itu berisiko kehilangan akan ruh perjuangannya.

Kader sering kali tidak terlihat di panggung. Namanya mungkin tidak tercatat dalam setiap pencapaian. Namun mereka hadir di ranting, mengurus masjid, mendampingi anak muda, menggerakkan lembaga sosial, menghidupkan dakwah, dan bekerja dalam keheningan.

Mereka adalah pondasi yang tidak selalu terlihat, tetapi menentukan kokohnya bangunan Muhammadiyah.

Karena itu, Muhammadiyah tidak perlu memilih antara membangun bangunan atau membangun kader. Keduanya harus berjalan bersama.

Kita membutuhkan Amal Usaha yang besar, tetapi juga kader yang berjiwa besar dalam melanjutkan estafet kepemimpinan. Kita membutuhkan ekspansi, tetapi juga regenerasi. Kita membutuhkan kemajuan, tetapi tidak boleh kehilangan akar perjuangan.

Sebab pada akhirnya, bangunan itu boleh menjulang tinggi, tetapi kaderlah yang membuatnya tetap berdiri.

Maka, pertanyaan kita ke depan bukan hanya:

“Apa lagi yang akan kita bangun?”

Tetapi yang lebih penting:

“Kader seperti apa yang sedang kita siapkan untuk menjaga ruh dari perjuangan ini?”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *