Pengkaderan Bukan untuk Mewarisi Jabatan, tetapi Memperluas Perjuangan
Penulis: Miftahul Rahman Kaderisasi adalah jantung kehidupan Muhammadiyah. Sejak berdiri lebih dari satu abad lalu, Persyarikatan ini mampu bertahan bukan…
Penulis: Miftahul Rahman Kaderisasi adalah jantung kehidupan Muhammadiyah. Sejak berdiri lebih dari satu abad lalu, Persyarikatan ini mampu bertahan bukan…
Penulis: Heri Susanto Sebagai bagian dari gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, kita sering mendengar kosa kata panggung perkaderan: Agent of Change, Pencerah, Generasi Penerus Sang Surya, sampai Pilar Bangsa. Luar biasa megah, bukan? Namun, kalau kita jujur pada diri sendiri dan melihat ke bawah saat berdiri… apa yang kita lihat? Apakah sepasang kaki yang kokoh, atau justru ujung sepatu yang tertutup oleh perut buncit? Sebagai salah satu gym enthusiast, ada satu hal mendasar yang sering menjadi renungan di antara deretan dumbbell dan barbell: Siapkah kita menjadi kader “Generasi Penerus Sang Surya”, jika mengubah gaya hidup diri sendiri saja kita malas? Bukan Cuma Soal Body Aesthetic, Ini Soal Kapasitas Dakwah Mari kita perjelas dari awal. Tulisan ini bukan untuk body shaming. Sama sekali bukan. Tulisan ini adalah bentuk pengingat persaudaraan. Isu obesitas dan gaya hidup sedentary (kurang gerak) di lingkungan kita itu nyata. Kita rajin rapat sampai larut malam, tapi konsumsinya gorengan dan teh manis pekat. Kita mahir menyusun Grand Design organisasi, tapi napas sudah ngos-ngosan baru naik tangga lantai dua gedung dakwah. Pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, memelopori gerakan yang tangguh, bergerak cepat, dan relevan. Dakwah butuh stamina. Menjadi Agent of Change butuh fisik yang siap tempur. Gym: Laboratorium Perkaderan Diri Banyak yang menganggap gym cuma tempat ajang pamer otot atau gaya-gayaan. Padahal, kalau dimaknai lebih dalam, proses di tempat fitness itu mirip sekali dengan perkaderan di Muhammadiyah: Disiplin dan Konsistensi: Di gym, tidak bisa dapat otot dalam semalam. Begitu juga dalam organisasi, tidak ada kader yang langsung matang tanpa proses. Melawan Rasa Malas: Mengangkat beban berat melatih mental untuk tidak gampang menyerah saat menghadapi kendala. Menjaga Amanah: Tubuh adalah titipan Allah SWT. Mengabaikan kesehatan sampai obesitas berarti kita kurang bertanggung jawab atas amanah fisik yang diberikan-Nya. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda: اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah (HR. Muslim). Kuat di sini tentu mencakup iman, pikiran, dan juga fisik. Saatnya kader berolahraga …
Pemulis: Yuliana Muhammadiyah telah berdiri lebih dari satu abad dan terus memberi manfaat bagi bangsa melalui dakwah, pendidikan, kesehatan, sosial,…
Penulis: Adellya Nihayatul Muuna Perkaderan merupakan jantung kehidupan sebuah organisasi. Keberlangsungan, arah perjuangan, dan kualitas kepemimpinan organisasi pada masa depan…
Liputan: Lendra Septian Dua santriwati Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (PPTQ) Ahmad Dahlan Ponorogo berhasil mengukir prestasi membanggakan pada ajang Festival…
Penulis: Jefri Eko Cahyono Muhammadiyah telah membuktikan bahwa dakwah tidak hanya diwujudkan melalui mimbar, tetapi juga melalui karya nyata. Selama…
Penulis: Muhammad Ridwan Ramadhani Ikhlas itu ruh gerakan. Ia adalah fondasi tak terlihat yang membuat sang surya Muhammadiyah tetap…
Penulis: Fiky Syahrul Romadhoni Mengapa ide sudah matang, persiapan sudah dilakukan, tetapi yang akhirnya diberi kepercayaan untuk mengeksekusi tetap pihak…
Penulis: Eko Wahyudi Muhammadiyah hari ini sering dibanggakan sebagai salah satu organisasi Islam modern terbesar di Indonesia. Kebanggaan itu bukan…
Penulis: Memo Valentino H. Di usia 114 tahun, Muhammadiyah terus menghadapi tantangan zaman. Dari isu digitalisasi, krisis kepercayaan publik, hingga…