AUM Besar, Minim Kader: Saatnya Muhammadiyah Menengok ke Dalam, Lebih memilih Profesionalitas atau Loyalitas.

Penulis: Eko Wahyudi

Muhammadiyah hari ini sering dibanggakan sebagai salah satu organisasi Islam modern terbesar di Indonesia. Kebanggaan itu bukan tanpa alasan. Ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) berdiri kokoh: sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, lembaga ekonomi, hingga berbagai institusi sosial yang menjadi bukti nyata dakwah berkemajuan. Bahkan tidak sedikit AUM yang telah menjadi rujukan nasional dalam bidangnya masing-masing.

Namun di balik megahnya bangunan fisik dan besarnya aset organisasi, ada satu pertanyaan yang semakin relevan untuk diajukan: apakah pertumbuhan AUM diikuti dengan pertumbuhan kader?

Inilah paradoks yang mulai terasa. AUM terus berkembang, tetapi kader yang benar-benar memahami ideologi, memiliki loyalitas, dan siap melanjutkan estafet kepemimpinan justru tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama. Gedung bertambah, unit usaha berkembang, jumlah siswa dan pasien meningkat, tetapi stok kader yang siap mengelola dan menjaga ruh Muhammadiyah sering kali terasa semakin terbatas.

Tidak sedikit AUM yang akhirnya bergantung pada profesional yang memiliki kompetensi tinggi, tetapi belum tentu memiliki kedalaman pemahaman terhadap nilai-nilai Muhammadiyah. Profesionalisme tentu penting, bahkan harus dihargai. Akan tetapi, profesional tanpa ideologi akan memandang AUM hanya sebagai tempat bekerja, bukan sebagai ladang dakwah dan pengabdian.

Akibatnya, orientasi pengelolaan perlahan bergeser. Ukuran keberhasilan lebih banyak diukur dari laporan keuangan, akreditasi, jumlah peserta didik, atau keuntungan lembaga. Semua itu memang penting, tetapi jika ruh perkaderan memudar, maka AUM hanya akan menjadi institusi yang besar secara administratif, namun kehilangan identitas gerakannya.

Kondisi ini bukan untuk saling menyalahkan. Justru menjadi alarm bagi seluruh komponen Muhammadiyah. Selama ini, perhatian kita sering tersita pada pembangunan gedung, pembukaan unit baru, dan pengembangan program. Semua itu diperlukan. Namun, pembangunan manusia jauh lebih mendesak daripada pembangunan fisik. Sebab gedung tidak akan menjaga Muhammadiyah; manusialah yang akan menjaganya.

Perkaderan tidak boleh dipahami sebatas kegiatan formal, pelatihan beberapa hari, atau rutinitas organisasi. Perkaderan adalah proses panjang menanamkan nilai, membangun karakter, melatih kepemimpinan, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap Persyarikatan. Seorang kader tidak lahir karena diberi jabatan, tetapi karena ditempa melalui pengalaman, pembinaan, dan keteladanan.

Ironisnya, banyak anak didik Muhammadiyah yang belajar sejak tingkat dasar hingga perguruan tinggi di lingkungan AUM, tetapi setelah lulus justru tidak memiliki ikatan emosional dengan Muhammadiyah. Mereka memperoleh ilmu, tetapi tidak selalu memperoleh ideologi. Mereka mengenal lembaganya, tetapi belum tentu mengenal gerakannya. Di sinilah evaluasi besar perlu dilakukan.

Setiap AUM semestinya menjadi pusat perkaderan. Sekolah tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga kader Persyarikatan. Rumah sakit tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi ruang internalisasi nilai Islam Berkemajuan. Perguruan tinggi tidak hanya mengejar publikasi ilmiah, tetapi juga melahirkan pemimpin Muhammadiyah masa depan. Ketika setiap AUM menyadari fungsi strategis tersebut, maka perkaderan tidak lagi menjadi tanggung jawab organisasi otonom semata, melainkan menjadi budaya seluruh Persyarikatan.

Muhammadiyah memiliki modal yang sangat besar. Jaringan luas, kepercayaan masyarakat, sumber daya ekonomi, dan sejarah panjang perjuangan adalah kekuatan yang tidak dimiliki banyak organisasi. Namun modal sebesar apa pun tidak akan bertahan tanpa regenerasi. Sejarah membuktikan bahwa organisasi besar runtuh bukan karena kekurangan aset, melainkan karena kekurangan kader yang mampu menjaga arah perjuangan.

Sudah saatnya ukuran keberhasilan Muhammadiyah tidak hanya dihitung dari berapa banyak AUM yang berdiri, tetapi juga dari berapa banyak kader berkualitas yang lahir setiap tahunnya. Sebab AUM adalah alat perjuangan, sedangkan kader adalah jiwa yang menggerakkannya. Tanpa kader, AUM hanya menjadi bangunan. Dengan kader yang kuat, AUM akan terus hidup sebagai instrumen dakwah yang memberi manfaat bagi umat dan bangsa.

Maka, pertanyaan yang patut kita renungkan bersama bukan lagi, “Sudah berapa banyak AUM yang kita miliki?” Melainkan, “Sudah berapa banyak kader yang benar-benar kita lahirkan?” Sebab masa depan Muhammadiyah pada akhirnya tidak ditentukan oleh megahnya gedung, melainkan oleh kualitas manusia yang menghidupkan nilai-nilai Persyarikatan di dalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *