Kader Muhammadiyah: Penentu Masa Depan Persyarikatan dan Keberlanjutan AUM

Penulis: Memo Valentino H.

Di usia 114 tahun, Muhammadiyah terus menghadapi tantangan zaman. Dari isu digitalisasi, krisis kepercayaan publik, hingga persaingan lembaga pendidikan dan kesehatan. Di tengah semua itu, ada satu pilar yang menentukan apakah Muhammadiyah akan tetap relevan atau tidak, pilar tersebut adalah Kader

Kader bukan hanya “anggota biasa”. Dalam khazanah Muhammadiyah, kader adalah insan yang memiliki tiga sifat: berilmu, beramal, dan berakhlak. Mereka adalah penyambung lidah persyarikatan, pelaksana kebijakan, sekaligus penjaga ideologi di lapangan.

Tulang Punggung Persyarikatan

Jika dilihat struktur, Muhammadiyah berdiri di atas 13.000 cabang, 3.000 daerah, dan puluhan ribu ranting. Semua tidak akan berjalan tanpa kader.

“Kekuatan Muhammadiyah bukan di gedungnya, tapi di manusianya,” demikian pesan yang sering disampaikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Di ranting, kader yang menghidupkan pengajian subuh dan tabligh. Di daerah, kader yang mengurus musyawarah dan konsolidasi. Di wilayah dan pusat, kader yang merumuskan kebijakan strategis. Tanpa kader yang militan, instruksi pimpinan tidak akan sampai ke akar rumput.

Di era media sosial, peran kader juga bergeser. Mereka kini dituntut menjadi “content creator dakwah” dan “public communicator”. Jika dulu cukup ceramah di masjid, kini kader harus mampu menjelaskan Islam berkemajuan lewat TikTok, YouTube, dan tulisan.

Persyarikatan yang tidak menyiapkan kader dengan kompetensi ini akan tertinggal narasi di ruang publik.

Penjaga Ruh AUM

Data PP Muhammadiyah mencatat, hingga 2026 Muhammadiyah memiliki 172 Perguruan Tinggi, 6.000-an sekolah, 500-an rumah sakit dan klinik, serta ribuan panti dan lembaga sosial lain. Total ini disebut Amal Usaha Muhammadiyah atau AUM.

AUM adalah wujud nyata dakwah bil hal. Namun ada bahaya besar: “de-ideologisasi AUM”.

Apa maksudnya? Ketika AUM hanya mengejar akreditasi, ranking, dan profit, tapi melupakan nilai-nilai persyarikatan. Sekolah Muhammadiyah bisa jadi hebat secara akademik, tapi siswanya tidak kenal Muhammadiyah. RS PKU bisa modern, tapi tidak ada ruh Islam berkemajuan di dalamnya.

Di sinilah pentingnya kader. Seorang rektor, kepala sekolah, atau direktur rumah sakit harus kader yang paham dua bahasa: bahasa profesional dan bahasa persyarikatan.

Prof. Dr. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah pernah menegaskan:

“AUM adalah aktualisasi dari misi dakwah dan tajdid muhammadiyah dan AUM adalah kekuatan penggerak bagi misi dakwah dan tajdid persyarikatan”

Artinya, AUM bukan sekadar tempat kerja. Ia adalah medan kaderisasi. Setiap guru, dosen, dokter, dan perawat di AUM adalah duta persyarikatan.

Tantangan Regenerasi: PR Besar

Masalahnya, Anak muda Muhammadiyah banyak yang cerdas dan mampu, tp tdak pernah dikasih kesempatan.

Penyebabnya klasik, pimpinan AUM belum bisa memahami pentingnya kaderisasi.

Jika tidak segera diatasi, 10-15 tahun ke depan kita akan kekurangan “nahkoda” untuk AUM. Persyarikatan bisa kehilangan kendali atas amal usahanya sendiri.

Lalu apa solusinya?

  • Pertama, perkuat sistem kaderisasi. Baitul Arqam dan Darul Arqam harus dievaluasi agar tidak sekadar seremonial. Perlu ada “kaderisasi profesi”: khusus guru, dokter, dosen, dan manajer AUM.
  • Kedua, buat skema karier dan kesejahteraan kader di AUM. Kader harus melihat masa depan yang jelas jika mengabdi di Muhammadiyah.
  • Ketiga, beri ruang bagi kader muda. Jangan hanya jadi pelengkap. Libatkan mereka dalam pengambilan keputusan di persyarikatan dan AUM.

Investasi Terbesar adalah Kader

Muhammadiyah boleh punya ribuan gedung dan triliunan aset. Tapi semua itu tidak ada artinya tanpa orang yang menjaga dan menggerakkannya.

Investasi terbesar Muhammadiyah bukan semen dan beton, tapi manusia. Kader adalah investasi jangka panjang yang hasilnya baru terlihat 10-20 tahun kemudian.

Jika kita ingin Muhammadiyah tetap menjadi gerakan pencerahan di abad kedua, maka mulai hari ini kita harus serius mencetak kader. Kader yang cerdas, berintegritas, dan cinta persyarikatan.

Karena di tangan merekalah masa depan persyarikatan dan keberlanjutan AUM dipertaruhkan. Sebagaimana pesan KH Ahmad Dahlan:

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *