Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melaksanakan program pemberdayaan Kelompok Mitra Kambing di Desa Balong, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Program ini berfokus pada pengelolaan limbah kotoran kambing (kohe) menjadi produk pupuk organik yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membantu mengurangi dampak pencemaran lingkungan.
Kegiatan PKM tersebut dilaksanakan oleh: Adib Khusnul Rois, Anip Dwi Saputro, Muh Tajab, Muhammad Sulthon Alif Dzaky, dan Itsna Akromatul Azizah. Program dirancang sebagai upaya mengembangkan potensi lokal Desa Balong, khususnya sektor peternakan kambing yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat.
Peternakan kambing di Desa Balong sebagian besar dikelola secara individu dan telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Salah satu mitra dalam kegiatan ini adalah Mitra Kambing Balong yang berlokasi di Jalan Rahayu No. 28 RT 01 RW 01, Dukuh Sukomulyo, Desa Balong, Ponorogo. Usaha peternakan tersebut telah dijalankan sejak tahun 2015 dan didukung oleh tenaga kerja yang melakukan pemeliharaan serta kebersihan kandang setiap hari.
Namun, berkembangnya aktivitas peternakan juga menghadirkan persoalan baru berupa meningkatnya volume kohe kambing. Selama ini, limbah tersebut masih belum dikelola secara optimal sehingga berpotensi menimbulkan bau, mengundang lalat, serta mencemari lingkungan apabila terbawa aliran air hujan.
“Kohe kambing selama ini lebih banyak dipandang sebagai limbah yang harus dibuang. Padahal, apabila dikelola dengan teknologi yang tepat, kohe dapat menjadi bahan baku pupuk organik yang memiliki nilai ekonomi,” jelas tim PKM.
Melalui program ini, tim PKM memperkenalkan pendekatan ekonomi sirkular (circular economy). Limbah yang berasal dari kandang tidak lagi dipandang sebagai masalah, tetapi diolah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat, khususnya untuk mendukung sektor pertanian.
Edukasi dan Pelatihan Pengolahan Kohe
Program diawali dengan sosialisasi dan edukasi kepada kelompok peternak. Peserta diberikan pemahaman mengenai dampak limbah kohe yang tidak terkelola serta berbagai peluang pemanfaatannya. Selanjutnya, tim memberikan pelatihan dan demonstrasi teknis pengolahan kohe menjadi pupuk organik. Materi pelatihan meliputi pencampuran bahan, pengaturan kadar air, proses fermentasi, pengelolaan bahan organik, hingga pengemasan dan penyimpanan produk.
Peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pengolahan kohe. Dengan metode tersebut, anggota kelompok diharapkan mampu melakukan proses produksi secara mandiri setelah program selesai.

Terapkan Teknologi Tepat Guna
Salah satu bagian penting dari kegiatan PKM adalah penerapan teknologi pengolahan kohe. Tim memperkenalkan penggunaan mesin penggiling kohe kambing dan komposter semi-modern untuk meningkatkan efisiensi proses produksi. Mesin penggiling digunakan untuk memperkecil ukuran partikel kohe sehingga bahan lebih mudah diolah, dicampur, dan menghasilkan tekstur pupuk yang lebih homogen. Anggota kelompok juga mendapatkan pelatihan mengenai cara mengoperasikan, merawat, serta menggunakan alat dengan memperhatikan keselamatan kerja.
Selain mesin penggiling, konsep teknologi pengolahan juga mencakup komposter rotary dan penggunaan bioaktivator seperti EM4 atau mikroorganisme lokal (MOL) untuk membantu mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Hasil yang ditargetkan berupa pupuk organik padat yang dapat digunakan untuk kebutuhan pertanian maupun dikembangkan sebagai produk usaha kelompok.
Penguatan Manajemen dan Pemasaran
Tidak berhenti pada aspek produksi, program PKM juga memberikan pendampingan dalam bidang manajemen usaha dan pemasaran. Kelompok dibekali penyusunan SOP produksi, pencatatan keuangan sederhana, perhitungan biaya produksi, serta pengembangan kemasan dan identitas produk. Tim juga mendorong terbentuknya identitas produk “Pupuk Organik Kambing Balong” sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha kelompok.
Untuk pemasaran, kelompok diarahkan memanfaatkan dua jalur, yaitu pemasaran secara langsung melalui kelompok tani, toko pertanian, dan pasar lokal, serta pemasaran digital melalui media sosial dan platform perdagangan daring.

Menuju Usaha Berbasis Ekonomi Sirkular
Tahap akhir program diarahkan pada pendampingan dan keberlanjutan usaha. Tim PKM melakukan pendampingan selama beberapa bulan untuk memonitor proses produksi, manajemen usaha, serta perkembangan pemasaran.
Konsep ekonomi sirkular diterapkan melalui alur sederhana:
Kohe dari kandang → pengolahan melalui komposter → penggilingan → pengemasan dan branding → pemasaran → pendapatan kelompok → pengembangan usaha.
Melalui model tersebut, limbah peternakan diharapkan dapat berubah menjadi sumber daya produktif yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus lingkungan. Tim PKM berharap program ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak, mengurangi permasalahan limbah peternakan, serta membuka peluang terbentuknya unit usaha baru bagi masyarakat Desa Balong.
“Keberhasilan program tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan pupuk organik, tetapi juga dari kemampuan kelompok untuk melanjutkan produksi, mengelola usaha, dan mengembangkan pasar secara mandiri,” ungkap tim PKM.
Program pemberdayaan ini sekaligus menjadi langkah untuk mendorong terwujudnya peternakan zero waste, yaitu sistem peternakan yang mampu mengurangi limbah dan mengoptimalkan setiap sumber daya yang dihasilkan untuk menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.