Liputan: Lendra Septian
Suasana malam di lingkungan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (PPTQ) Ahmad Dahlan Ponorogo tampak berbeda. Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan halaqah tahfidz, para santri tidak langsung beristirahat. Mereka berkumpul bersama wali asrama dalam kegiatan Pendampingan Malam, sebuah program pembinaan rutin yang dilaksanakan setiap hari mulai pukul 21.00 hingga 22.00 WIB.
Kegiatan ini menjadi salah satu program unggulan pembinaan santri di asrama. Dalam suasana yang santai namun tetap penuh makna, wali asrama mendampingi para santri untuk belajar malam, menyelesaikan tugas sekolah, mengulang pelajaran, hingga memperkuat pemahaman terhadap materi yang telah dipelajari di kelas.
Tidak hanya berfokus pada aspek akademik, Pendampingan Malam juga menjadi ruang bagi santri untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Melalui sesi sharing dan diskusi, santri diajak untuk terbuka mengenai kesulitan belajar, permasalahan pergaulan, maupun kendala pribadi yang dapat mengganggu proses belajar dan ibadah mereka. Dengan pendekatan yang humanis, wali asrama hadir sebagai pembimbing sekaligus orang tua kedua selama mereka berada di lingkungan pesantren.
Dalam kesempatan tersebut, wali asrama memberikan motivasi, nasihat, serta evaluasi ringan terhadap perkembangan masing-masing santri. Pendampingan secara intensif ini diharapkan mampu menumbuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat belajar, sekaligus membangun hubungan emosional yang lebih dekat.
Pimpinan PPTQ Ahmad Dahlan Ponorogo menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian penting dari sistem pembinaan karakter di pesantren. Keberhasilan pendidikan dinilai tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di kelas maupun halaqah tahfidz, tetapi juga oleh kedekatan emosional antara pembimbing dengan santri.
“Melalui pendampingan malam ini, kami ingin memastikan bahwa setiap santri benar-benar mendapatkan perhatian. Ketika wali asrama hadir mendampingi mereka setiap hari, maka perkembangan akademik, hafalan, akhlak, hingga kondisi psikologis santri dapat dipantau dengan lebih baik. Kami berharap santri merasa memiliki tempat untuk bercerita, mendapatkan solusi, sekaligus tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan berkarakter Qur’ani,” ungkap Ustadz Shodiq Zaki Mubarok, Direktur PPTQ Ahmad Dahlan Ponorogo.
Program ini menjadi wujud komitmen pesantren dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik dan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga pada pembentukan karakter. Dengan komunikasi yang terjalin setiap malam, berbagai permasalahan dapat dideteksi sejak dini sehingga solusi dapat segera diberikan secara tepat.
Menjelang pukul 22.00 WIB, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama. Momen ini menjadi penyejuk hati setelah seharian menjalani aktivitas belajar dan menghafal Al-Qur’an. Melalui Pendampingan Malam yang dilaksanakan secara istiqamah, PPTQ Ahmad Dahlan Ponorogo berharap para santri dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh perhatian dari hati ke hati.