Ketika Tim Instruktur/Fasilitator Ortom dan MPKSDI Berkumpul untuk Rembug Arah Kaderisasi Muhammadiyah Ponorogo Menyambut Masa Depan

Kaderisasi adalah jantung keberlanjutan sebuah gerakan. Muhammadiyah boleh memiliki sejarah panjang, amal usaha yang luas, serta kontribusi besar bagi bangsa, tetapi masa depan persyarikatan tetap sangat bergantung pada satu hal: kemampuan melahirkan kader yang mampu membaca zaman, memegang nilai, dan menggerakkan perubahan.

Karena itu, ketika tim instruktur dan fasilitator Organisasi Otonom (Ortom) bersama Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) berkumpul untuk merembukkan arah kaderisasi, sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukan sekadar teknis pelatihan, jadwal perkaderan, atau materi pengkaderan. Yang sedang dipertaruhkan adalah wajah Muhammadiyah pada masa depan.

Pertemuan semacam ini menjadi penting karena tantangan kaderisasi hari ini jauh berbeda dengan masa lalu. Generasi muda tumbuh di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat, derasnya arus informasi, budaya digital, perubahan pola komunikasi, persoalan sosial yang semakin kompleks, serta tantangan ideologis yang hadir dalam bentuk yang lebih halus dan beragam.

Kader tidak cukup hanya memahami sejarah Muhammadiyah. Kader juga harus mampu memahami realitas yang sedang berubah. Mereka harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kecakapan digital, kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, sekaligus memiliki keteguhan nilai keislaman dan kemuhammadiyahan.

Di sinilah instruktur dan fasilitator memiliki posisi strategis. Mereka bukan sekadar penyampai materi, tetapi penjaga ruh kaderisasi. Seorang instruktur tidak hanya bertugas membuat peserta memahami konsep, tetapi juga membantu kader menemukan alasan mengapa mereka harus bergerak, berjuang, dan mengambil bagian dalam dakwah Muhammadiyah.

Maka, rembug kaderisasi harus berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar. Kader seperti apa yang dibutuhkan Muhammadiyah dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan? Kompetensi apa yang harus dimiliki? Bagaimana metode kaderisasi harus berubah? Bagaimana agar perkaderan tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi melahirkan praksis gerakan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar kaderisasi tidak terjebak pada rutinitas. Jangan sampai perkaderan hanya menjadi agenda yang berulang setiap tahun, tetapi kehilangan daya transformasinya.

Muhammadiyah membutuhkan kader yang bukan hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi mampu menjadi pelaku perubahan. Kader yang memiliki integritas, kemampuan intelektual, kepekaan sosial, keberanian mengambil keputusan, dan kesanggupan bekerja bersama lintas kelompok.

Dalam konteks itu, sinergi antara Ortom dan MPKSDI menjadi sangat penting. Setiap Ortom memiliki pengalaman, karakter, basis kader, dan dinamika yang khas. Sementara MPKSDI memiliki tanggung jawab strategis dalam pembinaan kader dan pengembangan sumber daya insani. Jika kekuatan tersebut dipertemukan dalam satu visi, kaderisasi Muhammadiyah akan memiliki energi yang jauh lebih besar.

Kita membutuhkan ekosistem kaderisasi, bukan sekadar kegiatan kaderisasi.

Ekosistem itu harus membuat kader terus belajar setelah mengikuti sebuah perkaderan formal. Kader perlu memiliki ruang aktualisasi, ruang berdiskusi, ruang berorganisasi, ruang melakukan pengabdian, dan ruang mengembangkan gagasan. Dengan demikian, kaderisasi tidak berakhir ketika sertifikat dibagikan, tetapi justru dimulai ketika kader kembali ke tengah masyarakat.

Lebih jauh lagi, instruktur dan fasilitator juga perlu terus dikembangkan. Tidak mungkin kita mengharapkan lahirnya kader masa depan dengan metode fasilitasi masa lalu tanpa melakukan evaluasi dan inovasi. Instruktur harus menjadi pembelajar yang terus memperbarui wawasan, memahami karakter generasi muda, menguasai metode pembelajaran partisipatif, serta mampu memanfaatkan teknologi sebagai instrumen kaderisasi.

Namun, modernisasi metode tidak boleh berarti kehilangan substansi. Teknologi boleh berubah, metode boleh berkembang, tetapi nilai dasar Muhammadiyah harus tetap menjadi fondasi. Islam berkemajuan, tajdid, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, keberpihakan kepada kemanusiaan, keilmuan, amal sosial, dan etika kehidupan harus tetap menjadi ruh.

Di sinilah tantangan terbesar kaderisasi: bagaimana menjaga akar sekaligus mampu tumbuh ke arah masa depan.

Kader yang berakar kuat tidak mudah kehilangan identitas ketika berhadapan dengan perubahan zaman. Sebaliknya, kader yang memiliki wawasan masa depan tidak menjadikan tradisi sebagai alasan untuk menolak perubahan. Ia mampu mengambil nilai terbaik dari masa lalu, membaca kebutuhan masa kini, dan menyiapkan langkah untuk masa depan.

Karena itu, rembug antara instruktur/fasilitator Ortom dan MPKSDI hendaknya tidak berhenti pada kesepakatan administratif. Pertemuan itu harus menjadi ruang refleksi sekaligus ruang keberanian untuk melakukan pembaruan.

Kaderisasi Muhammadiyah membutuhkan keberanian untuk mengevaluasi apa yang sudah tidak relevan, mempertahankan apa yang masih bernilai, dan menciptakan pendekatan baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan generasi mendatang.

Pada akhirnya, masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar amal usaha yang dimiliki, seberapa banyak organisasi yang berdiri, atau seberapa sering kegiatan dilaksanakan. Masa depan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh siapa yang akan melanjutkan perjuangan, dengan kapasitas seperti apa, dan dengan nilai apa yang mereka bawa.

Maka, ketika para instruktur, fasilitator, dan pengelola kaderisasi duduk bersama untuk merembukkan arah kaderisasi, sesungguhnya mereka sedang menanam benih masa depan.

Semoga dari ruang rembug itu lahir kesadaran baru bahwa kaderisasi bukan pekerjaan tambahan, melainkan pekerjaan strategis. Bukan sekadar mencetak peserta pelatihan, tetapi menyiapkan manusia-manusia berkemajuan yang sanggup menjaga ideologi gerakan, membaca perubahan, dan menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Sebab Muhammadiyah hari ini adalah warisan perjuangan generasi sebelumnya. Dan Muhammadiyah masa depan adalah amanah yang sedang kita siapkan melalui kader-kader hari ini.

 

#Abdul Rhosid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *