Di Balik Pintu Toilet Sekolah, Karakter Sedang Dibentuk

Toilet mungkin menjadi ruang yang paling jarang dibanggakan oleh sebuah sekolah. Saat penerimaan peserta didik baru, sekolah sibuk memperlihatkan laboratorium, perpustakaan, ruang multimedia, atau deretan piala yang memenuhi lemari prestasi. Hampir tidak ada kepala sekolah yang dengan bangga mengajak calon orang tua melihat toilet. Padahal, boleh jadi justru di ruang sederhana itulah wajah pendidikan yang sesungguhnya sedang dipertontonkan.

Suatu pagi, sebelum bel pertama berbunyi, seorang guru membuka pintu toilet sekolah. Lantainya masih lembap. Sebuah keran menetes pelan tanpa ada yang merasa perlu menutupnya rapat. Tisu bekas tergeletak di sudut ruangan. Pada salah satu pintu bilik, coretan-coretan nama bertumpuk dengan kalimat usil yang entah ditulis oleh siapa. Tidak ada kerusakan besar. Tidak ada peristiwa yang layak menjadi berita. Semua tampak sebagai persoalan kecil yang sering dianggap lumrah.

Namun, justru dari hal-hal kecil itulah pendidikan sedang diuji.

Persoalan toilet sekolah sesungguhnya bukan sekadar pengalaman yang kita temui dari satu sekolah ke sekolah lain. Pemerintah pun terus memantau kondisi sanitasi pendidikan karena kualitas pembelajaran tidak pernah berdiri sendiri. Ketersediaan toilet yang layak, air bersih, dan sarana kebersihan merupakan bagian dari lingkungan belajar yang sehat dan bermartabat. Ketika fasilitas dasar itu belum terawat dengan baik, yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan peserta didik, melainkan juga budaya yang sedang tumbuh di dalam sekolah. Karena itu, berbicara tentang toilet sekolah sesungguhnya sedang berbicara tentang bagaimana sebuah komunitas mendidik warganya untuk bertanggung jawab terhadap ruang bersama.

Sayangnya, kita terlalu sering memandang pendidikan karakter hanya berlangsung di dalam kelas. Kita menyusun modul, mengadakan seminar, memasang slogan integritas di berbagai sudut sekolah, bahkan menyelenggarakan apel demi apel untuk mengingatkan pentingnya disiplin dan tanggung jawab. Semua itu tentu diperlukan. Akan tetapi, karakter tidak tumbuh karena sering mendengar nasihat. Karakter tumbuh karena seseorang terus-menerus membiasakan diri melakukan hal yang benar, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.

Toilet, ruangan yang sangat jujur.

Di balik pintu yang tertutup, tidak ada guru yang memberikan nilai. Tidak ada kamera yang mengawasi setiap gerak. Tidak ada tepuk tangan bagi mereka yang meninggalkan toilet dalam keadaan bersih. Yang ada hanyalah pilihan-pilihan sederhana yang akan membentuk watak seseorang. Apakah ia menyiram kembali kloset yang telah digunakan? Apakah ia menutup keran yang masih mengalir? Apakah ia membuang sampah pada tempatnya? Ataukah ia pergi begitu saja karena merasa selalu ada petugas kebersihan yang akan menyelesaikan semuanya?

Di sinilah letak ironi pendidikan kita. Di satu sisi, sekolah ingin melahirkan generasi yang berintegritas. Di sisi lain, ruang-ruang kecil tempat integritas dipraktikkan justru sering luput dari perhatian. Kita begitu tekun mengukur nilai ujian, tetapi jarang mengukur bagaimana siswa memperlakukan fasilitas bersama. Padahal, cara seseorang memperlakukan ruang publik sering kali lebih jujur daripada jawaban yang ia tulis di lembar ujian.

Karakter tidak dibentuk oleh satu pidato yang menggetarkan, melainkan oleh tindakan yang diulang setiap hari. Membiasakan mengantre, membersihkan bekas penggunaan, menghemat air, menjaga fasilitas umum, atau sekadar memastikan ruangan tetap nyaman bagi orang berikutnya merupakan latihan moral yang berlangsung tanpa sorotan. Tidak ada penghargaan bagi mereka yang melakukannya. Justru karena itulah latihan tersebut menjadi begitu berharga.

Kebiasaan Kecil Pembentuk Karakter

Pandangan tersebut juga sejalan dengan perhatian berbagai lembaga internasional terhadap sanitasi sekolah. UNICEF dan WHO menempatkan layanan air, sanitasi, dan kebersihan sebagai bagian penting dari hak setiap anak untuk belajar dalam lingkungan yang aman, sehat, dan bermartabat. Toilet yang bersih memang menjaga kesehatan. Namun, lebih dari itu, ia menjadi ruang belajar tentang penghormatan kepada orang lain. Setiap keran yang ditutup kembali, setiap sampah yang dibuang pada tempatnya, dan setiap fasilitas yang dijaga bersama sesungguhnya sedang melatih kesadaran bahwa kebebasan selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab.

Semua kebiasaan itu tidak terbentuk dalam sehari. Ia lahir dari tindakan sederhana yang terus diulang hingga akhirnya menjadi bagian dari diri seseorang. Pada mulanya, seorang anak mungkin menjaga kebersihan karena diingatkan guru. Lama-kelamaan, ia melakukannya tanpa perlu diperintah. Pada titik itulah pendidikan mencapai tujuannya. Nilai tidak lagi berhenti sebagai aturan yang harus dipatuhi, tetapi menjelma menjadi kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran. Karakter, pada akhirnya, bukanlah sesuatu yang diajarkan sekali, melainkan sesuatu yang dibiasakan setiap hari.

Jika kebiasaan adalah akar karakter, maka budaya sekolah adalah tanah tempat akar itu tumbuh. Tidak mengherankan apabila dua sekolah yang memiliki kurikulum sama, guru yang sama-sama kompeten, bahkan fasilitas yang hampir setara, dapat menghasilkan watak lulusan yang berbeda. Perbedaannya sering kali tidak terletak pada apa yang diajarkan, melainkan pada apa yang dibiasakan.

Sekolah yang warganya terbiasa mengembalikan kursi ke tempat semula, mematikan lampu yang tidak digunakan, memungut sampah meski bukan miliknya, dan meninggalkan toilet dalam keadaan bersih sedang menanamkan pelajaran yang jauh lebih mahal daripada sekadar teori tentang tanggung jawab. Sebaliknya, ketika ruang bersama dibiarkan kotor dengan alasan “nanti ada petugas kebersihan”, sesungguhnya yang sedang diwariskan bukan hanya sampah, melainkan juga cara berpikir bahwa tanggung jawab selalu dapat dialihkan kepada orang lain.

Di sinilah letak kekuatan sebuah budaya. Ia bekerja tanpa banyak suara. Ia tidak memerlukan pidato setiap pagi. Ia hadir dalam kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya terasa biasa. Anak-anak belajar bukan terutama dari apa yang mereka dengar, tetapi dari apa yang mereka lihat dan lakukan setiap hari. Tidak ada sekolah yang dapat mengajarkan disiplin apabila lingkungan sehari-harinya justru mentoleransi ketidakpedulian.

Karena itu, membangun karakter sesungguhnya lebih dekat dengan membangun ekosistem daripada mengumpulkan materi pelajaran. Guru memang berperan penting, tetapi guru tidak mungkin mengawasi setiap sudut sekolah selama dua puluh empat jam. Yang menjaga karakter seorang anak ketika pengawasan berhenti adalah kebiasaan yang telah hidup di dalam dirinya. Pada titik inilah pendidikan mencapai bentuknya yang paling dewasa: ketika seseorang tetap melakukan hal yang benar, bukan karena takut dihukum, melainkan karena merasa itulah yang semestinya dilakukan.

Peradaban di Topang oleh Tabiat

Kita sering mengagumi negara-negara yang terkenal disiplin. Kita terkesan melihat warga yang tertib mengantre, menjaga kebersihan ruang publik, atau dengan sukarela mengumpulkan sampah setelah sebuah acara besar selesai. Namun, kita kerap lupa bahwa semua itu bukanlah keajaiban yang muncul dalam semalam. Disiplin sosial dibangun melalui latihan yang panjang, dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang ditanamkan sejak anak-anak. Peradaban yang besar hampir tidak pernah lahir dari kebijakan yang spektakuler semata, melainkan dari kebiasaan yang sederhana tetapi dilakukan dengan konsisten selama bertahun-tahun.

Dalam tradisi pendidikan Islam, pelajaran itu sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Akhlak tidak berhenti pada pengetahuan tentang baik dan buruk. Akhlak menemukan maknanya ketika nilai itu menjelma menjadi tindakan yang dilakukan berulang kali hingga menjadi tabiat. Seseorang tidak disebut jujur karena mampu menjelaskan definisi kejujuran, tetapi karena ia terbiasa berlaku jujur dalam keadaan menguntungkan maupun merugikan dirinya. Demikian pula kebersihan, amanah, dan kepedulian terhadap hak orang lain. Semua itu tidak tumbuh melalui ceramah semata, melainkan melalui pembiasaan yang terus-menerus.

Mungkin karena itulah peradaban tidak pernah lahir hanya dari gagasan-gagasan besar. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, bahkan dari ruang-ruang yang nyaris luput dari perhatian. Kita boleh membangun laboratorium yang megah, memasang layar digital di setiap kelas, atau menuliskan kata integritas sebesar mungkin di dinding sekolah. Namun, selama seorang anak masih merasa wajar meninggalkan toilet dalam keadaan kotor karena yakin akan ada orang lain yang membersihkannya, sesungguhnya kita sedang mengajarkan pelajaran yang bertolak belakang dengan semua slogan itu.

Tahun ajaran baru kini hampir genap satu bulan. Jadwal pelajaran telah berjalan sebagaimana mestinya, guru mulai mengenali murid-muridnya, dan berbagai aturan sekolah perlahan berubah menjadi rutinitas. Justru pada masa inilah karakter mulai mengambil bentuk. Bukan ketika siswa menghafalkan tata tertib, melainkan ketika mereka memilih menaati atau mengabaikannya dalam hal-hal yang tampak sepele. Sekolah yang ingin membangun generasi berkarakter tidak cukup hanya memastikan kelas berlangsung dengan baik. Ia juga perlu memastikan bahwa lorong, halaman, kantin, tempat wudu, hingga toilet menjadi ruang-ruang yang mendidik.

Pada akhirnya, pendidikan bukan terutama diukur dari apa yang diajarkan guru, melainkan dari apa yang dibiasakan sekolah. Nilai rapor mungkin menunjukkan kecerdasan seorang anak, tetapi kebiasaannya memperlakukan ruang bersama memperlihatkan kualitas wataknya. Dan barangkali, ukuran paling jujur dari keberhasilan pendidikan karakter tidak pertama-tama terlihat di ruang kelas, melainkan di balik sebuah pintu yang jarang mendapat perhatian. Sebab, di balik pintu toilet sekolah, karakter tidak sedang diajarkan. Karakter sedang dibiasakan. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah, sebuah peradaban perlahan dibangun.

 

#Hanif Ikhsani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *