Membedah 3K Akar Masalah Organisasi (Konflik, Koruptif, Kolot) dan Solusinya

Materi yang disampaikan oleh M. Khoirul Abduh, S.Ag., M.Si., Wakil Ketua PWM Jawa Timur, dalam acara Upgrading Tim Instruktur MPKSDI di Universitas Muhammadiyah Ponorogo, dan kemudian disadur ulang oleh Sunarno, M.Pd., menawarkan kerangka berpikir yang tajam sekaligus praktis. Kerangka tersebut dikenal sebagai 3K akar masalah menurut Prof. Abdul Mu’ti: Konflik, Koruptif, dan Kolot.

Ketiga akar ini sering menjadi penghambat utama dalam organisasi, termasuk di lingkungan Muhammadiyah. Jika dibiarkan, mereka akan menggerogoti kebersamaan, produktivitas, dan keberlanjutan gerak dakwah. Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap ketiga masalah ini harus diikuti dengan solusi yang juga berangkat dari 3K: Kompak, Kreatif, dan Komunikatif.

  • Konflik

Konflik tidak selalu bermula dari perbedaan prinsip besar. Sering kali ia tumbuh dari hal kecil yang terus diperbesar oleh lidah. Contoh sederhana yang disampaikan dalam materi tersebut sangat menggambarkan realitas: dua orang beradu argumen selama satu jam dengan kata “bedes”. Selama keduanya hanya saling membalas dengan kata yang sama, suasana masih bisa berakhir dengan tawa. Namun begitu salah satu menambah kosakata ”mukamu bedes” lalu dibalas “anakmu bedes”, maka lingkaran konflik segera melebar.

Dari sekadar cacian pribadi, ia menjalar ke keluarga, ke kehormatan, bahkan ke kelompok. Inilah yang dimaksud dengan “banyaknya mulut yang terus menambah kosakata akar masalah”. Konflik yang semula bisa diselesaikan dengan dialog dan humor berubah menjadi permusuhan yang mendalam karena ego dan lidah tidak dikendalikan. Dalam organisasi, fenomena ini sering muncul dalam bentuk fitnah, saling curiga, atau perang argumen di media sosial internal yang akhirnya merusak soliditas.

  • Koruptif

Koruptif di sini tidak semata-mata soal uang. Ia mencakup korupsi waktu, dana, dan tenaga. Akarnya adalah kelemahan iman yang membuat seseorang merasa dirinya adalah pusat penyelesaian segala masalah. Ia yakin bahwa tanpa dirinya, tidak ada yang mampu menyelesaikan persoalan.

Padahal, segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah SWT. Sikap ini menghasilkan dua dampak sekaligus: orang tersebut memaksakan diri mengerjakan segala sesuatu sendirian (sehingga tenaga dan waktunya terkuras), sekaligus menutup peluang bagi orang lain untuk berkontribusi. Kisah Nabi Ibrahim a.s. yang menempatkan istri dan anaknya di lembah gersang tanpa bekal menjadi pengingat yang kuat. Nabi Ibrahim tidak mengandalkan logika manusia semata. Ia bertawakal kepada Allah, dan Allah menyediakan air zamzam serta perlindungan.

Dalam konteks organisasi, sikap “harus saya yang menyelesaikan” justru menjadi bentuk korupsi tenaga dan potensi kolektif. Orang yang beriman sejati justru membuka ruang, mendistribusikan amanah, dan meyakini bahwa pertolongan Allah datang melalui banyak tangan, bukan hanya tangannya sendiri.

  • Kolot

Kolot berarti sikap kaku, anti-perubahan, dan terikat pada cara-cara lama semata tanpa mempertimbangkan konteks zaman. Organisasi yang kolot cenderung menolak inovasi, memandang metode baru sebagai ancaman, dan mempertahankan tradisi hanya karena “sudah dari dulu begitu”.

Akibatnya, gerakan menjadi stagnan, generasi muda menjauh, dan peluang dakwah di era digital terlewatkan. Kolot bukan berarti menolak nilai-nilai dasar, melainkan menolak pembaruan metode yang justru dibutuhkan agar nilai-nilai tersebut tetap hidup dan relevan.

Ketiga akar masalah di atas saling terkait. Konflik yang tidak dikelola menghasilkan korupsi tenaga karena orang saling menyerang alih-alih bekerja sama. Korupsi tenaga dan waktu memperkuat sikap kolot karena tidak ada energi tersisa untuk memikirkan inovasi. Sikap kolot kemudian memicu konflik baru karena generasi yang berbeda cara berpikir saling menuduh. Lingkaran setan ini harus diputus.

Solusinya adalah 3K (Kompak, Kreatif, Komunikatif) yang bersifat konstruktif. Pertama, Kompak. Kebersamaan dan persatuan internal harus dijaga secara sadar. Kompak bukan berarti seragam dalam segala hal, melainkan mampu menyatukan perbedaan di bawah visi yang sama. Kedua, Kreatif. Organisasi harus berani mengembangkan inovasi dan cara-cara baru yang dinamis. Kreativitas di sini mencakup metode dakwah, pengelolaan sumber daya, dan pemanfaatan teknologi.

Ketiga, Komunikatif. Keterbukaan dan dialog yang baik menjadi jembatan. Komunikasi yang sehat mencegah konflik kecil berkembang menjadi perang, sekaligus membuka ruang bagi ide-ide baru agar tidak dilabeli “menyimpang” begitu saja.

Jika ketiga solusi ini dijalankan secara konsisten, akar masalah Konflik, Koruptif, dan Kolot dapat dilumpuhkan. Organisasi tidak lagi sibuk saling menuduh atau mengandalkan satu orang saja, melainkan bergerak bersama dengan penuh tawakal, inovasi, dan dialog.

Pada akhirnya, kekuatan terbesar organisasi terletak bukan pada individu yang merasa paling mampu, melainkan pada kebersamaan yang dibangun di atas keimanan, kreativitas yang terus diperbarui, dan komunikasi yang saling membangun. Inilah arah yang seharusnya diambil agar gerakan tetap relevan, sehat, dan diberkahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *