Penulis: Iwan Nuruddin Kabid Kaderisasi PDPM ponorogo
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13)
Muhammadiyah tidak dibangun oleh orang-orang yang memilih jalan paling mudah. Persyarikatan ini lahir dari keberanian untuk berpikir berbeda, bertindak nyata, dan memikul risiko demi menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan. Sejak awal, ruh Muhammadiyah bukan sekadar memperbanyak amal usaha, tetapi melahirkan manusia-manusia yang sanggup menjadi penggerak perubahan.
Karena itu, denyut Muhammadiyah sesungguhnya berada pada perkaderan. Amal usaha dapat dibangun dalam hitungan tahun, tetapi kader yang berintegritas memerlukan waktu yang jauh lebih panjang. Sebuah gedung dapat selesai dalam beberapa bulan, sedangkan membangun karakter seorang kader bisa membutuhkan puluhan tahun. Maka, jika ada investasi terbesar dalam Muhammadiyah, investasi itu bukan hanya pada bangunan, melainkan pada manusia.
Sayangnya, membangun manusia tidak selalu berjalan di atas jalan yang lapang. Tidak sedikit ikhtiar perkaderan justru lebih dahulu berhadapan dengan prasangka daripada kepercayaan. Sebelum sebuah gerakan selesai dibaca manfaatnya, ia telah diadili motifnya. Sebelum hasilnya dirasakan, niat para pelakunya telah dipertanyakan.
Fenomena ini barangkali bukan milik satu kelompok atau satu daerah. Hampir setiap organisasi pernah mengalaminya. Ketika sekelompok kader berusaha membangun ruang belajar, membuka akses beasiswa, menciptakan jejaring, atau menyiapkan generasi penerus, tidak jarang muncul bisik-bisik yang mengatakan, “Pasti ada kepentingan.” Ada yang menyebutnya pencitraan. Ada yang menganggapnya sedang membangun pengaruh. Bahkan, tidak sedikit yang lebih sibuk menebak motif daripada ikut mengambil bagian dalam ikhtiar tersebut.
Padahal, sebuah pertanyaan sederhana layak kita renungkan bersama: sejak kapan setiap kerja untuk perkaderan harus selalu dicurigai sebagai ambisi kekuasaan?
Barangkali, inilah salah satu bentuk disrupsi peradaban yang sedang kita hadapi. Bukan hanya perubahan teknologi atau derasnya arus informasi, melainkan bergesernya budaya organisasi dari budaya saling mempercayai menuju budaya saling mencurigai. Kita menjadi lebih cepat menilai daripada memahami, lebih mudah memberi label daripada membaca proses, dan lebih senang mengomentari daripada ikut mengerjakan.
Di sinilah kisah Ashabul Kahfi menemukan relevansinya. Allah tidak mengabadikan mereka karena jumlahnya. Tidak pula karena kedudukan sosialnya. Bahkan nama mereka tidak disebutkan. Yang Allah abadikan adalah kualitas iman mereka.
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى “Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi: 13).
Mengapa Al-Qur’an tidak memulai kisah itu dengan nama, silsilah, atau jabatan mereka? Karena dalam pandangan Allah, sejarah tidak digerakkan oleh popularitas, melainkan oleh ketulusan dan keberanian memegang prinsip.
Bayangkan sejenak apabila Ashabul Kahfi hidup pada zaman kita. Mungkin sebelum mereka tiba di gua, sudah ada yang mempertanyakan mengapa mereka bergerak bersama. Ada yang menuduh mereka sedang membangun kelompok. Ada yang mengatakan mereka sedang mencari pengaruh. Bahkan mungkin ada yang menyarankan agar mereka “tidak usah terlalu menonjol”. Namun Al-Qur’an tidak pernah mengabadikan prasangka-prasangka itu. Allah justru mengabadikan iman dan keberanian mereka.
Pelajaran ini penting bagi gerakan kader. Sebab sejarah selalu menunjukkan bahwa setiap ikhtiar besar hampir tidak pernah lahir tanpa kesalahpahaman. Orang yang bekerja sering kali lebih dahulu dinilai daripada dipahami. Orang yang bergerak lebih dahulu diuji motifnya daripada diapresiasi manfaatnya. Padahal, Allah mengajarkan agar manusia berhati-hati dalam berprasangka dan lebih mengedepankan tabayun serta husnuzan.
Tentu tulisan ini bukan ajakan agar setiap gerakan diterima tanpa kritik. Kritik adalah vitamin bagi organisasi. Muhammadiyah tumbuh karena tradisi kritik, musyawarah, dan tajdid. Akan tetapi, kritik yang membangun lahir dari data, dialog, dan kepedulian terhadap masa depan persyarikatan; bukan dari dugaan yang belum teruji atau prasangka yang belum dibuktikan.
Perkaderan sejatinya bukan perlombaan mencari panggung, melainkan proses menyiapkan estafet kepemimpinan. Kader tidak cukup dibekali dengan materi pelatihan. Mereka membutuhkan ruang untuk bertumbuh, kesempatan untuk belajar, jaringan untuk berkembang, dan kepercayaan untuk berkarya. Ketika ada kader yang berupaya menghadirkan ruang-ruang itu, semestinya yang pertama lahir adalah semangat untuk menguatkan. Jika terdapat kekurangan, mari diperbaiki bersama. Sebab tujuan akhirnya bukan memenangkan kelompok tertentu, melainkan memastikan Muhammadiyah memiliki pemimpin-pemimpin yang siap menjawab tantangan zaman.
Ashabul Kahfi juga mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu dimulai dari jumlah yang besar. Mereka hanyalah sekelompok pemuda yang memiliki keberanian menjaga iman ketika mayoritas memilih arus yang berbeda. Mereka tidak sibuk membuktikan diri kepada manusia, tetapi sibuk menjaga amanah di hadapan Allah. Dan justru karena itulah Allah mengabadikan kisah mereka sepanjang zaman.
Mungkin inilah manifesto yang perlu terus dihidupkan dalam gerakan perkaderan Muhammadiyah. Bahwa kaderisasi bukan sekadar mencetak pengurus, melainkan membentuk manusia yang berani berpikir, berani berbuat, dan tetap rendah hati. Bahwa keberpihakan kepada kader tidak cukup diwujudkan melalui slogan, tetapi melalui tindakan nyata: membuka akses pendidikan, memperluas kesempatan berkarya, menyiapkan ruang pengabdian, dan mendampingi mereka hingga benar-benar siap menjadi pemimpin.
Pada akhirnya, tantangan terbesar Muhammadiyah bukanlah kekurangan kader. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membangun ekosistem yang membuat kader berani tumbuh tanpa dibayangi budaya saling mencurigai. Sebab sebuah persyarikatan akan tetap besar bukan hanya karena banyaknya amal usaha, tetapi karena kemampuannya melahirkan manusia-manusia yang dipercaya untuk melanjutkan perjuangan.
Mungkin kita tidak diminta memasuki sebuah gua sebagaimana Ashabul Kahfi. Namun, kita semua dipanggil untuk menjaga kewarasan dalam berorganisasi: kewarasan untuk menghargai ikhtiar, kewarasan untuk mengedepankan tabayun daripada prasangka, dan kewarasan untuk meyakini bahwa setiap kerja yang diniatkan demi kemajuan umat akan menemukan nilainya di hadapan Allah, meskipun tidak selalu segera dipahami oleh manusia.