Mencari Jiwa Magetan

“Setiap manusia memiliki nama, setiap rumah memiliki alamat dan setiap daerah memiliki wilayah. Namun tidak semuanya memiliki jiwa yang mampu dikenali oleh generasi yang hidup di dalamnya.”

Ketika Pembangunan Kehilangan Cerita

Beberapa tahun terakhir, hampir setiap daerah di Indonesia berlomba menunjukkan kemajuan. Jalan-jalan diperlebar, gedung-gedung pemerintahan diperbarui, ruang publik dipercantik, destinasi wisata dipromosikan dan berbagai slogan pembangunan diperkenalkan. Di banyak tempat, keberhasilan sering diukur dari panjang jalan yang dibangun, jumlah wisatawan yang datang, besarnya investasi yang masuk atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi.

Semua itu tentu penting. Tidak ada masyarakat yang dapat berkembang tanpa infrastruktur yang memadai, pelayanan publik yang baik, pendidikan yang berkualitas dan kesehatan yang terjamin. Pembangunan fisik adalah kebutuhan nyata yang harus terus diupayakan. Namun di tengah berbagai capaian tersebut, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan.

Apakah sebuah daerah cukup dibangun dengan beton, atau ia juga memerlukan sesuatu yang tidak dapat disentuh oleh tangan?

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang lebih mendasar. Sebab sejarah memperlihatkan bahwa banyak kota di dunia memiliki bangunan megah, tetapi kehilangan identitasnya. Sebaliknya, ada pula daerah yang secara fisik sederhana, tetapi tetap dikenang karena nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakatnya.

Perbedaan keduanya bukan terletak pada seberapa tinggi gedung yang berdiri, melainkan pada seberapa kuat masyarakat memahami siapa diri mereka. Brasília di Brasil adalah contohnya. Ibu kota yang dibangun dari nol pada tahun 1960 oleh arsitek Oscar Niemeyer itu dirancang dengan begitu terencana, hingga diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Namun karena kota ini lahir murni dari atas meja gambar, tanpa tumbuh perlahan dari kehidupan warganya, banyak yang merasakan Brasília sebagai kota yang megah dipandang, tetapi dingin dihuni. Ia efisien, tetapi kehilangan kehangatan yang biasanya lahir dari sejarah panjang sebuah tempat.

Bandingkan dengan Kampung Naga di Tasikmalaya. Di sana tidak ada gedung tinggi, tidak ada jalan lebar, bahkan listrik pun sengaja tidak dialirkan ke dalam kampung. Rumah-rumahnya sederhana, seragam, terbuat dari bambu dan atap ijuk seperti ratusan tahun silam. Namun justru dari kesederhanaan itulah Kampung Naga dikenal luas dan terus didatangi orang dari berbagai penjuru negeri, bukan untuk melihat kemegahan, melainkan untuk menyaksikan bagaimana sebuah masyarakat masih mampu menjaga nilai leluhurnya di tengah zaman yang terus berubah.

Dari dua tempat yang begitu jauh berbeda itu, saya menangkap satu pelajaran yang sama. Sebuah daerah tidak dikenang karena tingginya bangunan, tetapi karena teguhnya nilai yang dirawat oleh warganya.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang membangun ruang untuk manusia, tetapi juga membangun makna bagi kehidupan manusia yang menempati ruang tersebut.

Seorang Pendatang yang Menerima, Bukan Mewarisi

Saya perlu jujur sejak awal. Saya bukan kelahiran Magetan. Saya seorang pendatang, yang sepuluh tahun lalu diberi separuh kebahagiaan hidup yang tidak pernah saya duga sebelumnya, yaitu menikahi seorang perempuan Magetan. Sejak hari itu, tanah ini bukan lagi sekadar tempat yang saya kunjungi, melainkan tempat yang perlahan saya tinggali, saya pelajari, dan pada akhirnya saya cintai.

Barangkali karena posisi itulah, ketika sayembara logo HUT ke-351 Magetan dibuka, saya tidak berani langsung menggambar. Seorang kelahiran daerah ini mungkin bisa menggambar dari ingatan masa kecilnya. Tetapi saya tidak memiliki ingatan semacam itu. Yang saya miliki hanyalah rasa syukur seorang pendatang yang merasa telah menerima terlalu banyak dari tanah yang bukan tanah kelahirannya.

Rasa syukur itu, saya kira, adalah jenis kejujuran yang berbeda. Ia tidak lahir dari klaim kepemilikan, melainkan dari kesadaran bahwa saya telah diberi ruang untuk hidup, dan karena itulah saya merasa berutang untuk memahaminya lebih dalam, bukan sekadar menggambarnya.

Berawal dari sayembara

Niat awal saya sederhana yaitu membuat sebuah gambar yang layak mewakili kabupaten ini dalam usianya yang ke-351 tahun. Saya membuka kertas kosong, menyiapkan pensil, dan berpikir bahwa yang saya butuhkan hanyalah bentuk yang menarik dan warna yang tepat.

Namun semakin lama saya mencoba menggambar, semakin saya menyadari bahwa tangan saya berhenti bukan karena kehabisan ide, melainkan karena ada sesuatu yang lebih mendasar belum terjawab. Saya bisa saja menggambar gunung, menggambar sungai, menggambar apa pun yang lazim mewakili sebuah daerah. Tetapi setiap kali garis itu saya buat, muncul satu pertanyaan yang menolak untuk diabaikan.

Jika saya menggambar ini sebagai seorang pendatang, apakah saya sedang menggambarkan Magetan, atau hanya menggambarkan apa yang saya kira sebagai Magetan?

Pertanyaan itu mengubah arah seluruh proses. Sayembara yang semula saya bayangkan sebagai persoalan teknis kreatif, perlahan berubah menjadi sebuah pencarian yang jauh lebih personal. Saya berhenti menggambar, dan mulai bertanya.

Perjalanan Mencari Jiwa, Bukan Mencari Bentuk

Sebagai seorang pendidik, saya terbiasa meyakini bahwa jawaban yang tergesa-gesa jarang sekali benar. Maka saya memilih jalan yang lebih panjang. Saya mulai membaca kembali catatan sejarah Magetan, mendengar cerita para petani dan pedagang di pasar, memperhatikan bagaimana anak-anak berangkat sekolah setiap pagi, dan merenungkan pengalaman saya sendiri hidup di tanah ini selama sepuluh tahun terakhir.

Dari proses itu, saya menemukan satu nama yang terus muncul dalam berbagai cerita masyarakat, Dialah Ki Ageng Mageti. Dari beliaulah nama Magetan diyakini berasal, dan dari beliau pula saya menemukan satu nilai luhur yang menjadi titik terang seluruh pencarian saya, yaitu semangat memberi ruang bagi kehidupan.

Saya belajar satu hal penting dari proses ini. Sebuah simbol yang jujur tidak boleh lahir hanya dari fakta, karena fakta saja bisa kering. Ia juga tidak boleh lahir hanya dari perasaan, karena perasaan saja bisa menyesatkan. Simbol yang jujur harus lahir dari perpaduan antara fakta yang dapat dipertanggungjawabkan, nilai budaya yang masih hidup di tengah masyarakat, pengalaman sosial yang saya alami sendiri sebagai pendatang dan refleksi yang mempertautkan semuanya menjadi makna.

Maka pertanyaan saya pun berubah. Bukan lagi, “bentuk apa yang bagus untuk logo ini,” tetapi, “nilai apa yang sesungguhnya menghidupi Magetan, sehingga generasi mendatang masih dapat mengenalinya sebagai dirinya sendiri?”

Angka, Gunung dan Sungai Bukan Sekadar Gambar

Lawu berdiri di sana, seperti yang selalu ia lakukan jauh sebelum saya menginjakkan kaki di tanah ini. Tetapi baru pada perjalanan inilah saya benar-benar bertanya, apa yang membuat gunung itu bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari jiwa sebuah daerah.

Saya teringat pada satu prinsip yang selama ini menuntun cara saya membaca Magetan, bahwa sebuah bagian tidak pernah bisa dipahami secara terpisah dari keseluruhan, sebagaimana keseluruhan hanya bisa dipahami melalui bagian-bagiannya. Lawu tidak bisa saya pahami sendirian. Ia harus dipahami melalui aliran airnya yang menghidupi tanah, pertanian, dan pariwisata di bawahnya. Aliran air itu sendiri tidak bisa dipahami tanpa manusia yang tumbuh berkat pendidikan dan kesehatan yang layak. Manusia yang bertumbuh itu tidak bisa dipahami tanpa infrastruktur yang menghubungkan mereka satu sama lain. Dan semuanya tidak bisa dipahami tanpa pendidikan sebagai cahaya yang menuntun arah, serta Jalak Lawu yang menjadi penunjuk kebijaksanaan dan harapan bagi masa depan.

Di titik inilah simbol itu akhirnya menemukan bentuknya. Angka 351 hadir bukan sebagai hiasan usia, melainkan sebagai satu aliran yang tidak terputus, mengikat gunung, air, manusia, jembatan, buku, dan burung Jalak Lawu menjadi satu kesatuan gerak menuju masa depan. Empat nilai inti yang saya temukan sepanjang pencarian ini, yaitu memberi, menyatukan, menumbuhkan, dan berkelanjutan, pada akhirnya menyatu dalam satu nama konsep yang saya beri judul MAGETI, sebagai penghormatan kepada nilai luhur Ki Ageng Mageti yang memberi ruang bagi kehidupan.

Sebuah Simbol dari Seorang yang Diberi Ruang

Saya tidak menulis pengalaman ini untuk mengatakan bahwa bagaimana logo semestinya dibuat atau tafsir paling benar tentang Magetan. Sebagai seorang pendatang, saya tidak pernah berani mengklaim seperti itu. Tidak ada satu simbol pun yang mampu menampung seluruh jiwa sebuah daerah, apalagi jika ia digambar oleh tangan yang baru sepuluh tahun belajar mencintainya.

Yang ingin saya sampaikan justru sebaliknya, bahwa proses mencari simbol ini telah mengajari saya lebih banyak dibanding hasil akhirnya. Saya belajar bahwa cinta kepada sebuah tempat tidak harus lahir dari kelahiran, tetapi bisa lahir dari ruang yang diberikan dan dari kesediaan untuk terus bertanya tentang ruang itu. Disini saya mengatakan bahwa meski saya pada akhirnya tidak berpartisipasi, tapi perasaan yang didapatkan jauh lebih dalam tentang Magetan dari proses yang saya lalui.

Barangkali begitu pula dengan Magetan, dan barangkali begitu pula dengan daerah mana pun di negeri ini. Sebuah daerah tidak akan pernah selesai dimaknai dan justru di situlah ia tetap hidup. Sebab sebuah daerah akan terus memiliki jiwa, bukan karena mampu menjaga sejarahnya dengan sempurna, tetapi karena warganya, termasuk mereka yang datang dari luar dan diberi ruang untuk tinggal, tidak pernah berhenti memaknainya.

Selamat hari jadi Kabupaten Magetan ke 351 Untuk seluruh warga Magetan.

 

#Hanif Ikhsani, M.Pd. || Pendatang yang mencari Makna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *