Kader adalah elemen kunci dalam menentukan kesuksesan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang menyebarkan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan tajdid, yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. Melalui kader, organisasi ini dapat mencapai tujuannya untuk memperkuat struktur organisasinya. Oleh karena itu, perlu dilakukan kaderisasi secara berkesinambungan untuk menghasilkan kader yang kuat sebagai inti organisasi, demi memastikan kelangsungan regenerasi dan suksesi kepemimpinan. Hal ini penting agar organisasi dapat berdiri kokoh, seperti yang dijelaskan dalam Q.S. As-Saff ayat 4.
M. Abdul Halim Sani pernah mengatakan:
“Tindakan baik yang tidak terorganisir mudah dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir.”
Ini mengartikan bahwa seperti pasukan yang berjuang untuk kebenaran, mereka harus teratur dalam barisan. Pentingnya kaderisasi dalam Muhammadiyah tercermin dalam pepatah khasnya “Sebelum patah telah tumbuh dan sebelum hilang telah berganti“.
Pasang surut dinamika kaderisasi dimuhammadiyah menjadikan paradoks tersendiri dari realitas yang diharapkan. Alih alih dapat berjalan dengan semestinya terkadang proses kaderisasi hanya berjalan ditempat. Banyak hal yang mempengaruhi itu, fenomena yang sering muncul adalah ketika kemandirian kader muhamaadiyah itu di uji oleh beberapa keadaan yang antara lain seperti :
Ujian independensi politik, dengan menjaga netralitas organisasi.
Muhammadiyah memiliki Khittah, yang dalam hal politik diharapkan mampu untuk menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik. Kemandirian kader diuji untuk tidak menyeret atribut organisasi ke dalam pusaran politik praktis demi kepentingan pribadi atau kelompok. Kader yang terjun ke politik praktis diuji untuk tetap membawa nilai-nilai moralitas luhur Muhammadiyah (pencerdasan, kejujuran, dan keadilan) dan bukan sekadar berburu kekuasaan pragmatis.
Ujian Kemandirian Ekonomi
Muhammadiyah sedang gencar memperkuat pilar ekonomi setelah sukses di pilar pendidikan dan kesehatan. Kemandirian ekonomi kader menjadi fondasi agar dakwah tidak mudah “dibeli” atau diintervensi oleh kepentingan pemodal.
Dari sinilah kader diuji untuk menjadi pelaku ekonomi yang tangguh, kreatif, dan mandiri melalui kewirausahaan, sehingga dapat menghidupi diri sendiri sekaligus menyokong pembiayaan gerakan dakwah secara swadaya.
Ujian Ideologi dan Pemikiran
Arus pemikiran Transaksional dan Pragmatisme di era digital seperti saat ini, kader dihadapkan pada gempuran ideologi yang tidak ada habisnya. Paparan faham ekstremisme maupun budaya pragmatisme/hedonism menjadi tantangan yang nyata harus dihadapi untu saat imi.
Kemandirian berpikir kader Muhammadiyah diuji agar kader tetap setia pada manhaj tarjih dan pemikiran Islam berkemajuan yang moderat (wasathiyah), tidak mudah ikut-ikutan tren yang merusak tatanan sosial.
Ujian Integritas Moral dan Amal Usaha
Muhammadiyah memiliki ribuan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Kemandirian kader yang mengelola AUM diuji dari segi profesionalisme, integritas dan loyalitasnya. AUM bukan dijadikan hanya tempat bekerja, namun AUM dijadikan temat untuk berbakti kepada Muhammadiyah.
Di sini kader diuji untuk tidak menjadikan AUM sebagai ladang mencari keuntungan pribadi yang merugikan organisasi, melainkan sebagai wadah pengabdian yang akuntabel dan professional.
Kesimpulnya adalah, ujian kemandirian sebagai proses penyaringan untuk melahirkan kader yang Tangguh dan kader Muhammadiyah yang mandiri disegela bidang. Kader yang Tangguh tidak akan menjadi beban bagi organisasi, melainkan menjadi problem solver bagi kepetingan organisasi umat dan bangsa. Di tengah tarikan kepentingan yang pragmatis saat ini, kemandirian kader di segela bidang adalah benteng terakhir bagi kelangsungan gerakan dakwah Muhammadiyah agar tetap murni dan berkemajuan.
#Bayu Nuryanto, S. Kep., Ners Wakil Ketua Bidang PDPM Ponorogo