Eling Sangkan Paraning Dumadi dan Hukum Siklus Kehidupan

Konsep Jawa “eling sangkan paraning dumadi” secara filosofis dapat dimaknai sebagai kesadaran manusia terhadap sangkan (asal) dan paran (tujuan akhir) dari keberadaannya. Manusia tidak semata-mata dipahami sebagai makhluk yang hidup untuk mengejar kepemilikan material, tetapi sebagai dumadi—yang ada karena suatu asal dan bergerak menuju suatu tujuan. Karena itu, “eling” atau ingat menjadi prinsip epistemologis sekaligus etis: manusia harus menyadari dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana seluruh keberadaannya akan berakhir.

Pandangan tersebut memiliki resonansi yang kuat dengan perspektif Al-Qur’an, salah satunya dalam QS Ali ‘Imran ayat 140:

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun mendapat luka yang serupa. Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia…” (QS Ali ‘Imran: 140)

Ayat ini memberikan suatu perspektif penting mengenai ketidakkekalan kondisi kehidupan. Kejayaan tidak bersifat absolut dan penderitaan tidak selalu berlangsung selamanya. Kekayaan, kekuasaan, kesehatan, pengaruh sosial, bahkan kemenangan suatu kelompok memiliki dinamika dan masa masing-masing.

Dalam perspektif ilmiah, fenomena tersebut dapat dibaca melalui konsep dinamika sistem dan perubahan sosial. Tidak ada sistem sosial, ekonomi, maupun politik yang berada dalam kondisi statis. Distribusi sumber daya berubah, pusat kekuasaan bergeser, generasi berganti, dan struktur masyarakat mengalami transformasi. Apa yang hari ini berada di tangan seseorang atau suatu kelompok, secara historis dapat berpindah kepada pihak lain.

Dengan demikian, ungkapan “tiap kekayaan ada masanya” tidak harus dipahami secara sempit sebagai ramalan bahwa seseorang pasti menjadi miskin. Maknanya lebih mendalam: kepemilikan dan kemakmuran adalah kondisi yang bersifat temporal, bukan identitas ontologis manusia. Seseorang boleh kaya, tetapi tidak boleh menganggap dirinya hakikatnya adalah kekayaan. Seseorang boleh berkuasa, tetapi kekuasaan bukanlah sifat kekal dirinya.

Di sinilah eling sangkan paraning dumadi menjadi sangat relevan. Kekayaan seharusnya mengantarkan manusia pada kesadaran, bukan pada kesombongan. Jika manusia ingat kepada sangkan-nya, ia menyadari bahwa segala sesuatu yang dimiliki pada dasarnya datang melalui proses yang berada di luar kendali mutlak dirinya. Jika manusia ingat kepada paran-nya, ia memahami bahwa seluruh kekayaan material pada akhirnya tidak ikut menjadi identitas permanen ketika kehidupan berakhir.

Secara filosofis, terdapat titik temu antara keduanya:

“Eling sangkan paraning dumadi” mengajarkan kesadaran terhadap asal dan tujuan keberadaan, sedangkan QS Ali ‘Imran: 140 mengajarkan kesadaran terhadap pergiliran keadaan.

Keduanya sama-sama mengkritik ilusi permanensi kecenderungan manusia menganggap keadaan yang sedang dialaminya akan berlangsung selamanya.

  • Orang kaya dapat lupa bahwa kekayaan dapat berubah.
  • Orang berkuasa dapat lupa bahwa kekuasaan dapat berpindah.
  • Orang yang menang dapat lupa bahwa kemenangan bukan keadaan permanen.

Sebaliknya, orang yang sedang mengalami kesulitan pun tidak seharusnya menganggap penderitaannya sebagai keadaan yang pasti kekal.

Karena itu, eling bukan sekadar “mengingat Tuhan” secara ritual, tetapi merupakan kesadaran eksistensial terhadap ketidakabadian segala sesuatu yang melekat pada kehidupan manusia.

Dari perspektif ini, kekayaan justru mengandung tanggung jawab moral. Semakin besar kekayaan seseorang, semakin besar pula tuntutan agar kekayaan tersebut tidak berhenti pada konsumsi pribadi. Dalam kerangka Al-Qur’an, harta memiliki dimensi sosial melalui zakat, sedekah, infak, dan kepedulian terhadap sesama. Dalam kerangka filosofi Jawa, seseorang yang eling tidak terjebak dalam dumeh merasa berhak menyombongkan apa yang sedang dimilikinya.

Maka, “tiap kekayaan ada masanya” bukan ajaran untuk membenci kekayaan, melainkan ajakan untuk tidak diperbudak oleh kekayaan. Yang dikritik bukan hartanya, tetapi keterikatan kesadaran manusia terhadap harta seolah-olah harta adalah sumber keselamatan dan identitas dirinya.

Pada tingkat yang lebih dalam, QS Ali ‘Imran: 140 juga memberikan prinsip resiliensi. Pergiliran keadaan membuat manusia belajar bahwa kehidupan merupakan proses dinamis. Kekalahan dapat menjadi evaluasi, kemenangan menjadi ujian, kemiskinan menjadi pengalaman yang menuntut ketahanan, dan kekayaan menjadi ujian tanggung jawab.

Dengan demikian, manusia ideal adalah manusia yang eling ketika kaya dan sabar ketika kehilangan; rendah hati ketika menang dan tetap teguh ketika kalah.

Secara filosofis, eling sangkan paraning dumadi dan QS Ali ‘Imran ayat 140 dapat dipertemukan dalam satu gagasan besar:

Manusia harus menyadari bahwa dirinya berasal dari suatu asal dan menuju suatu tujuan, sementara segala keadaan duniawi termasuk kekayaan, kekuasaan, kemenangan, dan penderitaan berada dalam hukum perubahan dan pergiliran.

Karena itu, kekayaan bukan untuk disembah, kekuasaan bukan untuk disombongkan, kemenangan bukan untuk membuat manusia lupa diri, dan kehilangan bukan alasan untuk kehilangan harapan.

Yang bersifat sementara hendaknya diperlakukan sebagai amanah. Yang bersifat kekal hendaknya menjadi orientasi kehidupan.

Dalam bahasa Jawa: eling marang sangkan, eling marang paran, lan aja nganti lali yen apa kang saiki dicekel durung mesthi selawase dadi duweke

 

#Abdul Rhosid || Santri Jalanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *