Mendidik Kader Muhammadiyah Itu Perlu Tarik Ulur Seperti Mengendalikan Layang-Layang: Perspektif Islam Berkemajuan

Mendidik kader Muhammadiyah pada hakikatnya merupakan proses membentuk manusia yang berakhlak, berilmu, dan berkemajuan. Proses tersebut tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang serba keras ataupun serba bebas. Pendidikan kader justru membutuhkan seni “tarik ulur” sebagaimana seseorang mengendalikan layang-layang. Layang-layang hanya dapat terbang tinggi apabila pengendalinya memahami kapan benang harus ditarik agar memperoleh daya angkat dan kapan harus diulur agar mampu mengikuti arah angin.

Begitu pula kader Muhammadiyah; mereka memerlukan arahan yang jelas sekaligus ruang untuk tumbuh menjadi pemimpin yang mandiri.
K.H. Ahmad Dahlan telah memberikan teladan bahwa kaderisasi bukanlah proses mencetak pengikut, melainkan melahirkan pelopor perubahan. Beliau tidak hanya mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi mengajak murid-muridnya memahami makna sosialnya.

Surah Al-Ma’un, misalnya, tidak berhenti sebagai hafalan, tetapi diwujudkan menjadi gerakan pelayanan kepada kaum miskin dan anak yatim. Cara tersebut merupakan bentuk “tarik ulur” pendidikan yang luar biasa; kader diarahkan kepada nilai dasar Islam, namun diberi kesempatan untuk menerjemahkannya dalam tindakan nyata sesuai tantangan zaman.
Ki Hadjar Dewantara mengajarkan prinsip “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Filosofi ini sangat relevan dengan kaderisasi Muhammadiyah. Di depan, pemimpin harus memberi teladan; di tengah, membangun semangat; dan di belakang, memberikan dorongan.

Pemimpin yang terus-menerus berada di depan akan membuat kader hanya menjadi pengikut. Sebaliknya, pemimpin yang selalu berada di belakang tanpa arahan akan membuat kader kehilangan orientasi. Tarik ulur kepemimpinan berarti mengetahui posisi yang tepat sesuai kebutuhan perkembangan kader.

Paulo Freire mengkritik model pendidikan yang hanya “menabungkan” pengetahuan kepada peserta didik (banking education). Kritik tersebut layak menjadi bahan introspeksi dalam kaderisasi Muhammadiyah. Kader bukanlah rekening kosong yang hanya diisi doktrin organisasi, melainkan manusia yang memiliki akal, pengalaman, dan potensi berpikir kritis. Kaderisasi yang hanya memerintahkan akan menghasilkan kader yang patuh tetapi kurang inovatif.

Sebaliknya, dialog yang sehat akan melahirkan kader yang mampu berpikir kritis tanpa kehilangan adab terhadap Persyarikatan.
Dalam perspektif Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo, kader Muhammadiyah harus dibentuk melalui tiga misi utama, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi. Humanisasi mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia, liberasi membebaskan umat dari kebodohan dan ketertinggalan, sedangkan transendensi memastikan seluruh gerakan berorientasi kepada Allah Swt.

Tarik ulur dalam kaderisasi berarti menjaga keseimbangan ketiga dimensi tersebut sehingga kader tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Kritik terhadap kaderisasi Muhammadiyah dewasa ini perlu disampaikan dengan jujur. Tidak sedikit organisasi yang lebih sibuk mempertahankan tradisi daripada melahirkan inovasi. Ukuran kader yang baik terkadang masih sebatas rajin hadir rapat, cepat mengangkat tangan saat voting, dan pandai menyusun proposal kegiatan.

Padahal, Muhammadiyah membutuhkan kader yang mampu menciptakan solusi bagi persoalan umat, bukan sekadar ahli membuat notulen rapat yang akhirnya disimpan rapi di lemari sekretariat.

Humor organisasi sering kali menyimpan pelajaran yang mendalam. Ada kader muda yang baru sekali menjadi panitia langsung merasa cocok menjadi Ketua Umum. Sebaliknya, ada senior yang sudah tiga puluh tahun menjadi pengurus tetapi masih menganggap semua kader muda “belum matang”. Akibatnya, regenerasi berjalan seperti pertandingan tarik tambang: yang muda ingin berlari, yang tua masih sibuk memastikan tali tidak putus. Padahal, yang dibutuhkan bukan menang tarik tambang, melainkan menerbangkan layang-layang bersama-sama.

Era digital menghadirkan angin baru yang jauh lebih kencang dibandingkan masa sebelumnya. Media sosial mampu mengangkat popularitas seseorang hanya dalam hitungan jam, tetapi juga dapat menjatuhkannya dalam waktu yang sama. Oleh karena itu, kader Muhammadiyah harus dibekali literasi digital, etika komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis.

Layang-layang yang baik tidak takut terhadap angin, justru memanfaatkan angin untuk terbang lebih tinggi. Demikian pula kader Muhammadiyah harus menjadikan perubahan teknologi sebagai peluang dakwah Islam Berkemajuan.

Kepercayaan merupakan energi terbesar dalam kaderisasi. Seorang kader yang dipercaya memimpin akan belajar mengambil keputusan, menghadapi kritik, dan bertanggung jawab atas hasilnya. Namun, kepercayaan juga harus diiringi pendampingan. Jangan sampai kader dilepas begitu saja dengan alasan “belajar mandiri”, tetapi ketika gagal justru disalahkan sepenuhnya. Tarik ulur berarti memberikan kebebasan yang disertai bimbingan, sebagaimana orang tua mengajari anak bersepeda; sesekali dilepas, tetapi tetap siap menangkap ketika hampir terjatuh.

Persyarikatan Muhammadiyah sesungguhnya tidak membutuhkan kader yang selalu berkata, “Siap, laksanakan!” tanpa berpikir. Muhammadiyah memerlukan kader yang mampu berkata, “Mengapa demikian?” dengan tetap menjaga adab. Sikap kritis bukanlah ancaman bagi organisasi, melainkan tanda bahwa proses kaderisasi berhasil melahirkan manusia yang berpikir. Organisasi akan berkembang apabila kritik dipandang sebagai vitamin, bukan sebagai virus.

Humor terakhir yang layak direnungkan adalah fenomena rapat organisasi. Kadang-kadang rapat berlangsung tiga jam untuk memutuskan hal yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui lima menit musyawarah. Setelah rapat selesai, semua merasa lelah, tetapi belum tentu ada keputusan yang benar-benar dijalankan. Mungkin layang-layang itu bukan tidak bisa terbang, melainkan terlalu lama dibahas warna benangnya sehingga lupa menerbangkannya. Kaderisasi hendaknya lebih banyak melahirkan aksi daripada sekadar memperpanjang diskusi.

Pada akhirnya, mendidik kader Muhammadiyah memang membutuhkan kebijaksanaan seperti mengendalikan layang-layang. Benang yang ditarik terlalu keras akan memutuskan semangat kader, sedangkan benang yang diulur tanpa kendali akan membuat kader kehilangan arah. Pemimpin kader yang bijaksana adalah mereka yang mampu menggabungkan keteladanan K.H. Ahmad Dahlan, filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, kesadaran kritis Paulo Freire, dan visi profetik Kuntowijoyo.

Dari perpaduan itulah akan lahir kader-kader Muhammadiyah yang beriman, berilmu, berakhlak, mandiri, inovatif, serta mampu menerbangkan dakwah Islam Berkemajuan setinggi-tingginya tanpa pernah kehilangan benang penghubungnya dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan cita-cita Persyarikatan.

 

#Dr. Katni, M.Pd.I || Sekretaris Korda Fokal IMM Kabupaten Ponorogo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *