Di banyak ruang organisasi, regenerasi sering kali disalahartikan sekadar sebagai prosedur administratif pergantian estafet ketika seseorag telah menyentuh batas usia atau masa jabatan. Pola pikir ini menyimpan bahaya laten: organisasi berisiko menjadi museum tradisi yang tambun dan lamban, bukan lagi motor perubahan.
Anak muda hari ini tidak terikat pada jargon nostalgia masa lalu. Mereka membutuhkan ruang aktualisasi sebelum idealisme mereka terkikis oleh pragmatisme zaman.
3. Keberanian Memberi Ruang Sebelum Terlambat
Pelajaran penting dari sejarah pendirian gerakan pembaharuan seperti yang diteladani KH Ahmad Dahlan adalah keberanian memberikan ruang bagi anak muda untuk tumbuh dan memimpin di zamannya.
Menunggu usia senior “habis” untuk menyerahkan kendali adalah bentuk penundaan yang berbiaya mahal:
-
Gagap Zaman: Kader muda baru dimajukan ketika usia mereka sendiri sudah tidak lagi berada pada puncak energi dan kreativitasnya.
-
Kehilangan Koneksi: Organisasi makin berjarak dengan realitas sosial generasi terdepan.
-
Krisis Kepemimpinan: Regenerasi yang mendadak tanpa penyiapan dinamis melahirkan kepemimpinan gagap visi.
Transformasi kader bukan persoalan menyingkirkan yang tua, melainkan mendinamisasi gerakan agar senantiasa relevan. Muhammadiyah mengajarkan bahwa tajdid (pembaharuan) adalah kunci keberlanjutan.
Menunggu usia habis sebelum menyerahkan kepemimpinan adalah bentuk kesombongan struktural. Transformasi kader harus dimulai hari ini melalui pembukaan akses kepemimpinan, perombakan metodologi kaderisasi yang kaku, dan pemberian kepercayaan nyata kepada kader muda untuk membentuk masa depannya sendiri.
#Sunarno, M.Pd