Menolak Kalah dari Pencitraan: Rekonstruksi Makna Ikhlas Kader Muhammadiyah

Penulis: Muhammad Ridwan Ramadhani

 

Ikhlas itu ruh gerakan. Ia adalah fondasi tak terlihat yang membuat sang surya Muhammadiyah tetap bersinar menembus zaman. Sejak era Kiai Ahmad Dahlan, para kader dididik untuk bekerja di sunyi: mendirikan sekolah di pelosok, merawat rumah sakit, hingga mengurus kebencanaan tanpa pernah berteriak meminta pujian.

Namun, mari kita jujur pada realitas hari ini. Di panggung publik yang makin riuh, kita kerap menyaksikan sebuah fenomena yang getir: Kader yang tulus, berdarah-darah bekerja, dan memiliki kapabilitas mumpuni, justru sering “terpinggirkan” atau kalah langkah oleh mereka yang piawai memoles citra.

Mengapa ketulusan kerap kali tidak sebanding dengan kemasan? Dan apakah ikhlas berarti harus pasrah menerima kekalahan dari politik pencitraan?

Mitos “Ikhlas Sama Dengan Diam”

Ada kesalahpahaman laten di kalangan sebagian kader. Ikhlas sering kali dipersempit maknanya menjadi sikap serba pasif: bekerja saja, tidak usah tampil, biarkan Allah yang membalas, nanti orang juga tahu sendiri.

Sikap ini mulia secara spiritual, tetapi naif secara sosiologis dan politik.

Pencitraan atau dalam bahasa yang lebih terukur, public relations dan komunikasi publik adalah alat. Alat itu netral. Masalahnya, panggung peradaban hari ini dikuasai oleh mereka yang paham betul cara memoles alat tersebut, meskipun komoditas yang mereka jual hanyalah bungkus kosong tanpa isi.

Ketika kader Muhammadiyah yang kaya karya memilih “pemberontakan dalam sunyi” dan enggan mengomunikasikan prestasinya, maka ruang publik yang kosong itu akan serta-merta diisi oleh orang lain. Muncullah mereka yang minim kerja nyata, namun riuh di media sosial, mahir merangkai narasi, dan lihai bersolek di depan kamera. Publik yang awam tentu hanya membaca apa yang tampak, bukan apa yang tersembunyi di dalam dada.

Narasi Tanpa Karya vs. Karya Tanpa Narasi

Pertarungan hari ini menghadirkan dua kutub yang ekstrem:

  •  Manusia Pencitraan: Banyak narasi, nol karya. Mereka sibuk membangun personal branding, memoles impresi, tetapi rapuh secara kapasitas eksekusi.
  •  Kader “Sok” Sunyi: Banyak karya, nol narasi. Mereka bekerja luar biasa di lapangan, tetapi gagap membagikan gagasan dan pencapaiannya kepada khalayak luas.

Keduanya tidak ideal. Namun, dalam hukum panggung modern, kelompok pertamalah yang lebih sering memenangkan kontestasi baik di panggung politik, kepemimpinan publik, maupun perebutan wacana.

Kebenaran atau kebaikan yang tidak terorganisir dan tidak dikomunikasikan dengan baik, akan dengan mudah digilas oleh kebatilan atau kebohongan yang dikemas dengan sangat rapi.

Rekonstruksi Ikhlas: Profesional dan Berdampak

Mengomunikasikan kebaikan bukanlah kebalikan dari ikhlas. Menyampaikan kerja-kerja nyata kepada publik bukan berarti riya’ (pamer). Justru di era disrupsi informasi, menyampaikan kebenaran dan kinerja terbaik adalah bentuk tanggung jawab kepemimpinan (syahadah ‘ala an-nas).

Ikhlas yang sejati seharusnya melahirkan profesionalisme, bukan kepasrahan yang apologetis.

  •  Jika pencitraan digunakan untuk menutupi kebohongan, itu adalah manipulasi.
  •  Namun jika komunikasi publik digunakan untuk menyampaikan kebenaran dan menginspirasi kebaikan, itu adalah dakwah.

Kader Muhammadiyah tidak boleh alergi pada media digital, teknik narasi, atau strategi komunikasi publik. Menguasai alat-alat pencitraan modern untuk menyuarakan gagasan dan karya riil adalah sebuah keharusan perjuangan, bukan bentuk degradasi moral.

Langkah Ke Depan: Melampaui Kemasan

Sudah saatnya kader Muhammadiyah bertransformasi. Kita tidak perlu menjadi manusia pencitraan yang hampa isi, tetapi kita juga tidak boleh terus-menerus kalah karena enggan belajar cara berbicara kepada zaman.

Muhammadiyah butuh kader yang berisi sekaligus terlihat, berkapasitas sekaligus komunikatif, dan tetap ikhlas di dalam hati namun sangat taktis serta strategis di panggung luar. Ketulusan adalah mesinnya, tetapi komunikasi dan strategi adalah kemudinya. Jangan biarkan mesin yang hebat mogok di pinggir jalan hanya karena kita menolak belajar cara mengemudikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *