Dari Saulatiyah hingga Muktamar

Dalam riuh ramainya Muktamar Nahdlatul (NU) Ulama Ke-35 di Jombang, ada banyak hal yang berkesan bagi setiap orang. Bagi warga Muhamamdiyah setempat ataupun yang sekedar melihat timeline di medsos pasti banyak yang berkesan dengan gelaran Muktamar Nu Misalnya penyediaan bakso oleh Lembaga amil zakat infaq dan sadaqah Muhamamdiyah (Lazismu), posko cek Kesehatan, bantuan keamanan baik oleh Kokam maupun Tapak Suci Putera Muhamamdiyah. Selain itu masih banyak lagi hal baik yang tidak tampak dan luput dari pemberitaan yang makin membuat warga kedua ormas ini makin erat tali silaturahimnya.

Jauh sebelum warga dari NU-Muhammadiyah bergandengan dalam beberapa hal, para pendiri ormas ini merupakan sahabat karib sejak lama. Hal ini bisa dilihat dari sisi sejarah, benih kebersamaan ini tidak tumbuh di atas panggung politik, melainkan di dalam bilik sederhana di Makkah. Pada akhir abad ke-19, dua pemuda asal Jawa Muhammad Darwis (kelak dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan) dan Muhammad Hasyim (KH Hasyim Asy’ari) sama-sama menimba ilmu di Madrasah As-Shaulatiyah Makkah di bawah bimbingan para Ulama baik dari Nusantara maupun ulama dari jazirah arab dan sekitarnya.

Solichin Salam dalam Kiai Ahmad Dahlan: Kehidupan dan Perjuangannya (1963) mencatat romantisme sejarah ini. Kedua pendiri ormas terbesar di Indonesia tersebut bukan sekadar kawan seangkatan, melainkan sahabat karib. KH Ahmad Dahlan memanggil Kiai Hasyim dengan sebutan hangat “Adi” (Adik), sementara Kiai Hasyim memanggilnya “Kakang” (Kakak).
Ketika kembali ke Tanah Air, keduanya mengambil jalan dakwah yang berbeda namun saling melengkapi. Muhammadiyah (lahir 1912) mengambil ceruk modernis-urban: merapikan administrasi, membangun sekolah bergaya Barat, dan mendirikan rumah sakit. Mereka menjadi “Kaum Jas” yang tertata. Sementara NU (lahir 1926) mengambil jalur tradisionalis-pedesaan: merawat tradisi turats dan mengakar di basis pesantren. Mereka adalah “Kaum Sarung” yang kelenturannya tak tandingi.

Romantisme yang dibangun oleh para pendiri tersebut semestinya terus dilanjutkan dalam berbagai hal. Demikian halnya warga dari kedua ormas ini juga harus senantiasa bekerjasama dalam kebaikan. Maka tak salah jika ada perkataan, “Jika NU dan Muhammadiyah sudah duduk bersama, beriringan, dan bersinergi, maka separuh urusan dunia di Republik ini sebenarnya sudah selesai.” Sisanya separuh urusan diselesaikan sendiri

Mazhab “Malik Fajar” dan Fikih Urunan

Di ranah pemuda (PMII dan Ansor di sisi NU; IMM, Pemuda Muhammadiyah, dan Kokam di sisi Muhammadiyah), perbedaan kultural ini justru melahirkan humor-humor segar.
Soal rokok, misalnya. Bagi NU, kretek adalah bagian dari syariat pergaulan. Muhammadiyah secara formal mengeluarkan fatwa Majelis Tarjih yang mengharamkannya. Namun ketika kader muda Muhammadiyah nongkrong bareng kader NU, fatwa tersebut kerap mengalami “kelenturan fikih”. Kader Muhammadiyah yang merokok sering diselorohkan sebagai pengikut “Mazhab Malik Fajar” merujuk pada almarhum Prof. Malik Fadjar, tokoh senior Muhammadiyah dan mantan Menteri Pendidikan yang memang santai dan dikenal perokok berat.

Perbedaan kultur kerja kedua ormas ini juga sangat kontras sekaligus melengkapi: orang Muhammadiyah itu jawaranya urusan manajerial. Kalau mereka urunan uang untuk bikin usaha, sekolah, atau rumah sakit, dipastikan usahanya berdiri, rapi, dan profesional. Sebaliknya, orang NU mungkin kurang gemar bikin proposal berbelit-belit, tapi kalau urusan urunan tenaga dan kerja bakti, tak ada tandingannya. Niat awal cuma bikin TPA kecil di kampung, tahu-tahu beberapa tahun kemudian sudah menjelma jadi pondok pesantren dengan ratusan santri.

Tapi justru di situlah letak indahnya. Indonesia ini beruntung punya dua raksasa yang saling melengkapi: NU menjaga kehangatan tradisi dan kohesi sosial di akar rumput agar warga tidak gampang diadu domba, sementara Muhammadiyah menyediakan benteng pendidikan modern, etos kerja, dan rumah sakit berkualitas agar warganya tidak gampang sakit dan tetap cerdas

Dewasa Berpolitik: Dari gonto gontokan hingga “Haha-Hihi”

Urusan panggung politik, kader NU adalah pendekar yang berhati baja dan berurat malu setebal tembok pesantren. Mereka bisa bantai-bantaian di forum politik hari ini, lalu besok pagi sudah makan soto sepiring berdua sambil tertawa terbahak-bahak—no hard feelings, politik itu cuma seni mengolah takdir.

Muhammadiyah sebaliknya, cenderung sangat prinsipil, terstruktur, dan agak baperan kalau ada aturan yang ditabrak, sebab bagi mekar politik idealnya punya rel yang lurus dan linier.

Pengamat politik Adi Prayitno pernah berseloroh bahwa jumlah massa dan kader NU yang melimpah adalah “NU adalah resource politik yg bisa dikapitalisasi, NU adalah intensi politik yg merupakan impian setiap politisi, siapa yang bisa kendalikan NU, rasa rasanya urusan politik amanlah.” siapapun akan melihat NU yang sangat sukses secara kuantitas dan penetrasi sosial.

Dalam dinamika politik praktis, pemuda Muhammadiyah sebenarnya bisa banyak belajar dari fleksibilitas senior-senior NU. Orang NU dalam hal politik dikenal sangat dewasa dan tidak baperan. Politik bagi NU bukanlah perkara hitam-putih, melainkan seni mengelola kemaslahatan.

Lihat saja bagaimana sejarah mencatat perseteruan politik di internal NU: konflik panas Cak Imin dengan Gus Dur dan keluarga Ciganjur, atau pertarungan sengit Pilgub Jatim antara Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Di panggung depan mereka bertarung habis-habisan. Namun ketika urusan jam’iyah atau acara NU digelar, mereka bisa duduk satu meja, makan nasi kebuli bareng, lalu haha-hihi seolah tak pernah ada luka.

Sebaliknya, Muhammadiyah cenderung linier, tertib, dan pemilihnya sangat bisa ditebak afiliasinya. Bahkan ada yang murtad dari Muhammadiyah, jika afiliasinyan tidak bisa diaspirasi. Bahkan Jika terjadi gesekan, cairnya butuh waktu agak lama karena kultur Muhammadiyah yang sangat menjaga etika formal dan ketertiban administrasi.

NU dan Muhammadiyah adalah Yin dan Yang bagi Indonesia

Muhammadiyah berperan sebagai Rem yang menjaga agar bangsa ini tetap berjalan di atas rel rasionalitas, modernitas, tata kelola yang bersih, dan ketertiban hukum. Sedangkan NU adalah Gas yang memberikan energi kebudayaan, kelenturan sosial, dan daya rekat persatuan yang tak mudah patah oleh perbedaan.

Jika kaum sarung dan kaum jas ini terus bergandengan tangan, saling melengkapi antara kekuatan kultur dan ketertiban struktur, maka kekhawatiran akan masa depan bangsa ini akan sirna dengan sendirinya. Karena di tangan merekalah, kemaslahatan Indonesia dipertaruhkan sekaligus diselamatkan.

Semoga muktamar NU yang digelar akhir Agustus ini mampu membawa kemaslahatan bagi bangsa dan negara, menghasilkan pemimpin yang berkualitas dan mampu membawa kemajuan bagi umat dan jamaahnya

 

#Agus Supatma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *