Kemerdekaan barangkali terlalu sering kita rayakan dengan cara yang sama: upacara, bendera, lomba, pidato, dan kalimat-kalimat tentang perjuangan para pahlawan. Semua itu penting. Tetapi setelah bendera diturunkan dan lagu kebangsaan selesai dinyanyikan, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri yakni; sebenarnya, dari apa kita sudah merdeka?
Indonesia memang telah merdeka dari penjajahan. Tetapi manusia bisa saja hidup dalam sebuah negara yang merdeka, sementara dirinya sendiri masih terjajah oleh banyak batas.
Batas itu adalah batas kemampuan, batas fisik, batas logika, batas kewajaran dan yang paling sering tidak kita sadari ialah batas kenyamanan.
Mungkin karena itu, memaknai kemerdekaan hari ini tidak cukup hanya dengan mengingat mereka yang dahulu berani melawan penjajahan. Kita juga perlu belajar dari keberanian manusia untuk melawan batas-batas yang pada zamannya dianggap mustahil.
Sebab banyak perubahan besar di dunia sebenarnya dimulai dari tindakan kecil yang pada awalnya tampak sederhana, bahkan mungkin dianggap tidak masuk akal.
Wright bersaudara, misalnya, pernah memiliki keyakinan sederhana: manusia bisa terbang. Pada masa ketika manusia hanya mengenal burung sebagai makhluk yang dapat menembus langit, gagasan itu terdengar seperti mimpi. Mereka tidak langsung mengubah dunia. Mereka memulai dengan percobaan, kegagalan, perbaikan, lalu mencoba lagi. Sebuah langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang akhirnya membuka babak baru dalam sejarah manusia.
Demikian pula dengan banyak penemuan lain. Lampu listrik tidak hadir dalam satu malam. Internet tidak tiba-tiba menghubungkan miliaran manusia. Vaksin, mesin, teknologi komunikasi, bahkan berbagai perubahan sosial, semuanya lahir dari manusia-manusia yang bersedia mengatakan: “Batas ini mungkin bukan akhir.”
Di situlah sesungguhnya kemerdekaan menemukan maknanya.
Menentang batas kemampuan
Kita sering mengatakan,
“Saya tidak bisa.”
Padahal terkadang kalimat itu bukan kesimpulan, melainkan kebiasaan.
Seorang anak yang pertama kali belajar membaca tidak langsung mampu memahami satu halaman buku. Ia mengeja satu kata, salah, mengulanginya, lalu perlahan membaca kalimat. Tidak ada lompatan besar. Hanya langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.
Begitu pula orang dewasa, mempelajari satu halaman buku setiap hari mungkin terasa tidak berarti. Menulis satu paragraf setiap pagi mungkin tampak terlalu kecil. Membaca satu jurnal sebelum tidur mungkin tidak langsung mengubah kehidupan. Tetapi kebiasaan-kebiasaan kecil itu, ketika dikumpulkan dalam waktu panjang, dapat mengubah kapasitas seseorang.
Maka merdeka dari batas kemampuan berarti berani mengganti kalimat “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa.” Keduanya terdengar sederhana, tetapi memiliki masa depan yang berbeda.
Menentang batas fisik
Tubuh manusia memiliki keterbatasan. Kita tidak bisa memaksa tubuh bekerja tanpa istirahat. Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa manusia sering menemukan kemampuan baru ketika bersedia melatih tubuhnya melewati batas yang selama ini dianggap cukup.
Seorang atlet tidak menjadi juara karena suatu pagi tiba-tiba memiliki tubuh yang luar biasa. Ia berlari ketika orang lain masih tidur. Ia berlatih ketika orang lain sudah berhenti. Ia mengulang gerakan yang sama berkali-kali.
Langkahnya mungkin kecil. Satu kilometer, satu repetisi, satu latihan.
Tetapi konsistensi membuat sesuatu yang tampaknya mustahil menjadi mungkin. Kemerdekaan dalam konteks ini bukan berarti menolak keterbatasan tubuh. Justru sebaliknya, ia berarti mengenali batas, lalu bertanya: seberapa jauh saya masih bisa bertumbuh?
Menentang batas logika
Ada pula batas yang lebih halus: logika yang kita gunakan untuk menentukan apa yang mungkin dan tidak mungkin.
Logika penting. Tanpanya manusia akan mudah terjebak dalam khayalan. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa kemajuan sering lahir ketika seseorang berani mempertanyakan kesimpulan yang selama ini dianggap sudah selesai.
Sebelum manusia berhasil terbang, langit adalah wilayah burung. Sebelum manusia bisa berkomunikasi dalam hitungan detik dengan seseorang di benua lain, jarak adalah kenyataan yang harus diterima. Sebelum informasi dapat diakses melalui telepon genggam, perpustakaan dan buku menjadi pusat pengetahuan.
Setiap zaman memiliki “ketidakmungkinan” sendiri. Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan sesuatu mustahil hanya karena belum pernah dilakukan. Boleh jadi masalahnya bukan pada kenyataan, tetapi pada imajinasi kita yang terlalu sempit.
Menentang batas kewajaran
Ini mungkin bagian yang paling sulit. Sebab manusia sering lebih takut dianggap aneh daripada gagal. Kita mengikuti kebiasaan bukan karena yakin kebiasaan itu benar, tetapi karena semua orang melakukannya.
Seorang guru mungkin mempunyai gagasan baru tentang cara mengajar, tetapi mengurungkannya karena takut dianggap berbeda. Seorang anak mungkin mempunyai pertanyaan kritis, tetapi memilih diam karena takut dianggap kurang ajar. Seorang pemimpin mungkin ingin melakukan perubahan, tetapi memilih mempertahankan keadaan karena kalimat, “Dari dulu juga begini,” terasa lebih aman.
Padahal banyak perubahan besar justru dimulai dari seseorang yang berani bertanya:
“Mengapa harus selalu begini?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi bisa menjadi awal perubahan. Kewajaran tidak selalu berarti kebenaran. Sesuatu yang sudah lama dilakukan belum tentu harus selamanya dipertahankan. Merdeka berarti memiliki keberanian untuk berpikir, menguji, dan ketika diperlukan berbeda.
Dan akhirnya kita menentang batas “kenyamanan”
Inilah penjajahan yang paling sulit dilawan. Bukan karena ada tentara yang menguasai kita, tetapi karena kita sendiri betah berada di dalamnya. Kita tahu harus membaca, tetapi memilih menggulir layar. Kita tahu harus belajar, tetapi memilih menunda. Kita tahu ada orang yang membutuhkan pertolongan, tetapi merasa itu bukan urusan kita. Kita tahu lingkungan perlu dijaga, tetapi berpikir satu sampah kecil tidak akan mengubah apa-apa. Kita tahu harus memulai sesuatu, tetapi terus menunggu waktu yang tepat.
Padahal dunia sering berubah bukan karena seseorang melakukan sesuatu yang spektakuler, melainkan karena seseorang bersedia melakukan hal kecil yang orang lain malas melakukannya. Memungut satu sampah, membaca satu buku, mengajari satu anak, menyumbangkan satu ide, menulis satu paragraf, membantu satu orang, mengucapkan satu kalimat yang menguatkan, mengkritik sesuatu yang memang perlu dikritik atau sekadar memulai kebiasaan baik yang kemudian ditiru orang lain. Kita tidak pernah tahu seberapa jauh efek dari satu tindakan kecil.
Barangkali satu guru yang bersedia mendengarkan muridnya akan membuat seorang anak tidak menyerah pada sekolah. Barangkali satu tulisan sederhana akan membuat seseorang berpikir ulang. Barangkali satu orang yang berani mengatakan “tidak” pada kebiasaan buruk akan membuat orang lain berani melakukan hal yang sama.
Perubahan tidak selalu dimulai dari panggung besar. Kadang ia dimulai dari kamar kecil, ruang kelas, meja kerja, halaman rumah, atau percakapan sederhana antara dua manusia. Maka pada Hari Kemerdekaan ini, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk bertanya apa yang telah diberikan negara kepada kita. Sesekali, tanyakan pula:
Apa yang sudah kita berikan kepada dunia?
Tidak harus sesuatu yang besar. Cukup satu langkah yang membuat kehidupan seseorang sedikit lebih baik. Satu kebiasaan yang membuat lingkungan sedikit lebih sehat, satu gagasan yang membuat orang lain berpikir, satu keberanian untuk melampaui batas diri sendiri.
Sebab para pendahulu kita telah mewariskan kemerdekaan dalam bentuk sebuah negara. Tugas kita adalah melanjutkan kemerdekaan itu dalam bentuk manusia-manusia yang tidak mudah menyerah kepada batas.
Kemampuan boleh terbatas, fisik boleh terbatas, logika kita boleh terbatas, kewajaran sosial boleh menekan, kenyamanan boleh menggoda. Tetapi jangan sampai semua itu menjadi alasan untuk berhenti bergerak. Karena mungkin makna kemerdekaan yang paling sederhana adalah ini: berani mencoba ketika orang lain berkata tidak mungkin, memulai ketika orang lain memilih menunggu, dan berani melakukan kebaikan kecil meskipun belum tahu apakah dunia akan segera berubah karenanya.
Sebab dunia yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari orang-orang yang dahulu bersedia melakukan sesuatu yang pada zamannya dianggap terlalu kecil, terlalu berani, terlalu aneh, atau bahkan terlalu mustahil.
Selamat menempuh Batas, 81 tahun Bumi Pertiwi !
#Hanif Ikhsani, M.Pd. || Anak Negeri