Kemampuan berbahasa Arab disadari penuh sebagai kompetensi penting yang terus dikembangkan di lingkungan PPTQ Ahmad Dahlan. Sebagai instrumen utama memahami Al-Qur’an dan literatur keislaman, penguasaan bahasa ini menjadi bekal mendasar bagi para santri untuk mendalami ilmu syar’i. Atas dasar komitmen itulah, pihak pesantren merancang program pembelajaran kosakata intensif setiap pagi sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai.
Meskipun berlangsung dalam waktu yang singkat, aktivitas Ilqo’ul Mufrodat didesain secara sistematis dan berkelanjutan. Suasana pagi yang tenang seketika menjadi hidup ketika gema suara asatidz pembimbing terdengar lantang mengenalkan kosakata baru. Para santri tampak fokus menyimak, mendengarkan pelafalan, lalu dengan cekatan mencatatnya ke dalam buku saku masing-masing.
Materi yang diajarkan mencakup ragam kosakata yang berkaitan erat dengan aktivitas sehari-hari hingga istilah-istilah aplikatif yang sering dijumpai dalam khazanah kitab-kitab berbahasa Arab. Model pembelajaran sengaja dibuat interaktif agar para santri tidak sekadar menghafal mati, melainkan diajak memahami makna, melafalkan makhraj secara tepat, hingga mempraktikkannya langsung ke dalam kalimat sederhana.

Melalui metode pengulangan bersama (drill) serta tanya jawab singkat yang dinamis, proses transfer ilmu bahasa ini berjalan menyenangkan dan jauh dari kesan menjemukan. Hal inilah yang memicu pertumbuhan budaya berbahasa Arab secara organik di lingkungan pesantren.
Direktur PPTQ Ahmad Dahlan Ponorogo, Ust. Shodiq Zaki Mubarok, S.Ud., M.Pd., menegaskan bahwa penguasaan bahasa Arab merupakan pilar utama pendidikan pesantren yang tidak boleh ditawar. Menurut beliau, santri masa kini tidak boleh hanya sekadar fasih membaca atau lancar menghafalkan ayat Al-Qur’an, tetapi wajib memiliki kapasitas membedah sumber ilmu Islam asli yang mayoritas ditulis dalam bahasa Arab.
“Bahasa Arab adalah kunci untuk membuka khazanah keilmuan Islam. Melalui program Ilqo’ul Mufrodat, kami ingin membangun kebiasaan belajar yang konsisten. Walaupun hanya sekitar lima belas menit setiap pagi, jika dilakukan secara istiqamah, insyaAllah akan memberikan dampak besar terhadap peningkatan kemampuan bahasa santri,” terang Ust. Shodiq Zaki Mubarok.
Beliau juga menambahkan bahwa program ini diharapkan mampu mendongkrak rasa percaya diri santri dalam berdakwah maupun berkomunikasi global.
“Harapan kami, santri tidak hanya kaya hafalan Al-Qur’an, tetapi juga mampu memahami literatur Islam secara langsung dan memiliki kepercayaan diri dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Arab,” lanjutnya optimistis.
Lebih dari sekadar media penambah perbendaharaan kata, rutinitas pagi ini secara tidak langsung ikut menempa karakter kedisiplinan, konsistensi (istiqamah), dan keberanian mental santri untuk melafalkan bahasa asing tanpa rasa takut salah. Pondasi bahasa yang kuat dari Ilqo’ul Mufrodat ini menjadi modal berharga sebelum para santri melangkah ke jenjang pembelajaran yang lebih rumit di kelas, seperti pendalaman kaidah ilmu nahwu-sharaf, kajian tafsir, hadis, hingga metode pembacaan kitab gundul (qira’atul kutub).
Begitu bel sekolah berdentang, para santri segera membubarkan barisan dengan wajah ceria dan melangkah mantap menuju ruang kelas masing-masing. Lewat ikhtiar kecil yang dirawat secara konsisten setiap pagi ini, PPTQ Ahmad Dahlan Ponorogo terus membuktikan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang seimbang; melahirkan generasi Qur’ani yang kokoh dalam tahfidz Al-Qur’an, luas dalam wawasan keislaman, serta mumpuni dalam kemampuan berbahasa Arab.
#Lendra Septian