Penulis: Dr. Katni, M.Pd.I || Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Hari Muhammadiyah bukan sekadar penanda historis berdirinya Persyarikatan pada 18 November 1912, melainkan momentum untuk melakukan refleksi kritis terhadap arah gerakan Islam Berkemajuan di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.
Lebih dari satu abad perjalanan Muhammadiyah menunjukkan bahwa dakwah bukan sekadar aktivitas verbal, melainkan proses transformasi sosial yang diwujudkan melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, pelayanan sosial, ilmu pengetahuan, hingga pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, Hari Muhammadiyah harus dimaknai sebagai ruang konsolidasi nilai, evaluasi gerakan, sekaligus proyeksi masa depan agar Muhammadiyah tetap menjadi pelopor perubahan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.
Perspektif Pierre Bourdieu menawarkan cara pandang yang menarik untuk membaca keberhasilan Muhammadiyah sebagai gerakan sosial-keagamaan. Menurut Bourdieu, perubahan sosial terjadi melalui interaksi antara habitus, arena (field), dan modal (capital). Ketiganya membentuk praktik sosial yang menentukan keberhasilan suatu individu maupun organisasi dalam mempertahankan eksistensi dan memperluas pengaruhnya.
Dalam konteks Muhammadiyah, teori ini menjelaskan bahwa kekuatan Persyarikatan bukan semata-mata terletak pada banyaknya amal usaha, melainkan pada keberhasilannya membangun budaya, menguasai ruang-ruang strategis, serta mengelola berbagai modal sosial yang dimiliki secara produktif.
Konsep habitus menjelaskan bagaimana nilai-nilai yang terus dipraktikkan akan membentuk karakter kolektif sebuah komunitas. Sejak masa KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah membangun habitus yang berorientasi pada tajdid, disiplin, keikhlasan, kerja keras, penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, pelayanan kepada masyarakat, dan keberanian melakukan pembaruan.
Habitus tersebut diwariskan melalui keluarga Muhammadiyah, sekolah, perguruan tinggi, masjid, organisasi otonom, hingga Amal Usaha Muhammadiyah. Tidak mengherankan apabila warga Muhammadiyah dikenal memiliki etos belajar yang tinggi, budaya organisasi yang kuat, serta komitmen terhadap kemajuan umat. Hari Muhammadiyah menjadi saat yang tepat untuk memastikan bahwa habitus tersebut tetap hidup di tengah generasi muda yang menghadapi tantangan era digital.
Habitus yang dibangun KH. Ahmad Dahlan sejatinya merupakan implementasi nyata dari ajaran Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Ma’un. Dahlan tidak berhenti pada pemahaman teks, tetapi mengubahnya menjadi praktik sosial yang melahirkan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai layanan kemanusiaan. Dalam bahasa Pierre Bourdieu, KH. Ahmad Dahlan berhasil mentransformasikan nilai-nilai agama menjadi habitus sosial yang terus direproduksi oleh warga Muhammadiyah lintas generasi. Inilah yang membedakan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga menghadirkan peradaban melalui amal nyata.
Selain habitus, Bourdieu menjelaskan pentingnya arena (field) sebagai ruang tempat aktor-aktor sosial berinteraksi, berkompetisi, sekaligus berkolaborasi.
Dahulu arena dakwah Muhammadiyah berpusat pada pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Kini arena tersebut berkembang jauh lebih luas, mencakup ekonomi syariah, teknologi digital, kecerdasan buatan, media sosial, industri kreatif, diplomasi global, hingga isu lingkungan hidup. Hari Muhammadiyah menjadi pengingat bahwa dakwah Islam Berkemajuan harus mampu memasuki arena-arena baru tanpa kehilangan identitas ideologisnya. Organisasi yang gagal membaca perubahan arena akan tertinggal, sedangkan organisasi yang adaptif akan terus menjadi pelopor perubahan.
Dalam konteks tersebut, kader Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi pengelola amal usaha, tetapi harus tampil sebagai ilmuwan, teknokrat, entrepreneur, peneliti, inovator, birokrat, pemimpin masyarakat, dan intelektual publik yang membawa nilai-nilai Islam Berkemajuan ke dalam setiap bidang kehidupan. Arena digital, misalnya, bukan sekadar ruang komunikasi, tetapi medan dakwah baru yang membutuhkan kader-kader yang menguasai teknologi, literasi informasi, kecerdasan buatan, dan komunikasi publik. Dakwah hari ini tidak hanya berlangsung di mimbar masjid, tetapi juga di layar gawai, ruang riset, laboratorium, pusat inovasi, hingga jejaring internasional.
Keberhasilan dalam arena sangat dipengaruhi oleh modal (capital) yang dimiliki. Pierre Bourdieu membagi modal menjadi modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik.
Muhammadiyah memiliki keempat modal tersebut dalam jumlah yang sangat besar. Modal ekonomi tercermin dari ribuan Amal Usaha Muhammadiyah yang menopang pelayanan kepada masyarakat. Modal budaya terlihat dari tradisi intelektual, budaya membaca, riset, dan pembelajaran sepanjang hayat. Modal sosial hadir melalui jaringan Persyarikatan dari tingkat pusat hingga ranting yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia. Adapun modal simbolik terwujud dalam kepercayaan masyarakat terhadap Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang moderat, profesional, independen, dan berkemajuan.
Tantangan Hari Muhammadiyah adalah memastikan seluruh modal tersebut terus dikembangkan menjadi kekuatan transformasi sosial yang semakin luas.
Pandangan ini memiliki titik temu yang kuat dengan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo. Jika Bourdieu menjelaskan mekanisme terbentuknya praktik sosial melalui habitus, arena, dan modal, maka Kuntowijoyo memberikan arah normatif bahwa praktik sosial tersebut harus berorientasi pada humanisasi, liberasi, dan transendensi. Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi organisasi yang kuat secara kelembagaan, tetapi juga harus menjadi gerakan yang memanusiakan manusia, membebaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan, sekaligus menghubungkan seluruh aktivitas sosial kepada nilai-nilai ketuhanan. Di sinilah kekuatan Islam Berkemajuan menemukan relevansinya sebagai gerakan yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal.
Memasuki abad kedua Muhammadiyah, tantangan yang dihadapi semakin kompleks. Revolusi industri berbasis kecerdasan buatan, perubahan iklim, krisis moral, disrupsi informasi, serta kompetisi global menuntut lahirnya habitus baru yang tetap berpijak pada nilai-nilai Islam tetapi adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hari Muhammadiyah harus menjadi momentum untuk memperkuat budaya literasi, inovasi, kolaborasi, profesionalisme, dan kepemimpinan transformatif. Amal usaha tidak boleh hanya menjadi institusi pelayanan, melainkan juga pusat lahirnya inovasi, riset, dan solusi bagi persoalan masyarakat.
Hari berMuhammadiyah adalah momentum untuk meneguhkan kembali cita-cita besar KH. Ahmad Dahlan: menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang mencerahkan kehidupan. Dalam perspektif Pierre Bourdieu, cita-cita tersebut hanya akan terwujud apabila Muhammadiyah mampu terus mereproduksi habitus Islam Berkemajuan, memperluas arena dakwah hingga menjangkau seluruh ruang kehidupan modern, serta mengoptimalkan modal ekonomi, budaya, sosial, dan simbolik yang dimiliki untuk kemaslahatan bersama. Ketika ketiga unsur itu berjalan secara harmonis dan diarahkan oleh nilai-nilai profetik, Muhammadiyah tidak hanya akan bertahan sebagai organisasi besar, tetapi akan terus menjadi kekuatan peradaban yang membawa pencerahan bagi Persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.