Penulis: Dr. Katni, MPd.I || Anggota MPKSDI PWM Jatim
Muhammadiyah sejak awal berdirinya tidak hanya membangun amal usaha, tetapi juga membangun manusia. Kekuatan Persyarikatan bukan semata terletak pada jumlah sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, atau lembaga sosial yang dimiliki, melainkan pada kualitas kader yang menghidupkan seluruh amal usaha tersebut. Oleh karena itu, memikirkan kader sesungguhnya merupakan pekerjaan batin yang tidak pernah selesai. Kaderisasi bukan sekadar proses administratif atau regenerasi kepemimpinan, melainkan proses menanamkan ruh perjuangan agar cita-cita dakwah Islam berkemajuan tetap hidup lintas generasi. Di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, mengasah batin untuk terus memikirkan kader menjadi kebutuhan strategis sekaligus panggilan moral bagi seluruh warga Persyarikatan.
Realitas saat ini menunjukkan bahwa profesionalisme telah menjadi tuntutan utama dalam setiap bidang kehidupan. Muhammadiyah pun membutuhkan kader yang memiliki kompetensi akademik, keahlian manajerial, kemampuan kepemimpinan, serta daya saing global. Profesionalisme merupakan keniscayaan karena tantangan dakwah tidak lagi hanya berkutat pada persoalan lokal, tetapi juga menghadapi perubahan sosial, ekonomi, politik, dan perkembangan teknologi digital. Namun, profesionalisme akan kehilangan makna apabila dipisahkan dari idealisme perjuangan Muhammadiyah. Seorang profesional yang tidak memiliki komitmen ideologis terhadap Persyarikatan berpotensi menjadi individu yang berhasil secara pribadi, tetapi kurang memberikan kontribusi bagi gerakan dakwah Muhammadiyah. Berhasil dalam tugas kerja dibidang garapnya tetapi benci terhadap organisasi otonom Muhammadiyah. Ia tidak sadar bahwa amal usaha besar tidak lepas dari perjuangan, komitmen Kader yang tidak tampak, tapi bekerja, merawat, membesarkan, menjaga dari problem problem yang tidak mampu diatasi oleh profesionalis murni.
Fenomena lain yang layak menjadi bahan renungan adalah semakin kuatnya orientasi terhadap kemapanan individu. Keberhasilan karier, peningkatan kesejahteraan, jabatan strategis, dan pencapaian akademik merupakan sesuatu yang patut disyukuri. Akan tetapi, kemapanan sering kali melahirkan zona nyaman yang mengurangi sensitivitas terhadap kebutuhan Persyarikatan dan kader. Tidak sedikit kader yang dahulu aktif berproses dalam organisasi, tetapi setelah memperoleh posisi sosial dan ekonomi yang mapan, intensitas pengabdian kepada Muhammadiyah, pengorbanan terhadap kader perlahan menurun. Kesibukan profesional menjadi alasan yang sering dikemukakan, padahal Persyarikatan justru membutuhkan pengalaman, jejaring, dan kapasitas mereka untuk memperkuat gerakan, luluran tangan, Kebijakan yang berpihak pada kader.
Mengasah batin berarti terus menjaga kesadaran bahwa keberhasilan pribadi tidak boleh memutus hubungan spiritual dan ideologis dengan Muhammadiyah. Persyarikatan telah menjadi ruang belajar, tempat menempa karakter, serta wahana pembentukan kepemimpinan bagi banyak kader. Oleh karena itu, sudah selayaknya setiap keberhasilan dipandang sebagai amanah untuk memperluas manfaat bagi umat. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya dalam membina kader, memperkuat kelembagaan, serta menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Kesuksesan individu seharusnya menjadi energi kolektif, bukan justru menjauhkan seseorang dari medan pengabdian.
Di sisi lain, kaderisasi tidak boleh hanya dibebankan kepada organisasi otonom atau lembaga pendidikan kader semata. Seluruh struktur Persyarikatan, pimpinan amal usaha, dosen, guru, tenaga kesehatan, pengusaha, birokrat, hingga tokoh masyarakat Muhammadiyah memiliki tanggung jawab yang sama dalam melahirkan kader-kader baru. Kader lahir bukan hanya melalui forum formal seperti Darul Arqam atau Baitul Arqam, tetapi juga melalui pendampingan, kebijakan, keteladanan, budaya organisasi, pembiasaan nilai yang berlangsung setiap hari dalam tempo yang lama. Kaderisasi terbaik sesungguhnya terjadi ketika seorang kader senior mampu menginspirasi kader muda melalui integritas hidupnya. Dengan Kebijakannya, kekuasaanya, hartanya dipersiapkan kader kader sebagai penerus, pelangsung penyempurna tujuan cita cita Muhammadiyah.
Dalam konteks tersebut, Muhammadiyah perlu membangun paradigma bahwa profesionalisme dan pengabdian bukanlah dua kutub yang saling bertentangan. Justru kader profesional merupakan aset strategis yang dapat mempercepat kemajuan Persyarikatan apabila kompetensinya diarahkan untuk kepentingan dakwah. Dokter Muhammadiyah tidak hanya menjadi dokter yang hebat, tetapi juga penggerak layanan kesehatan berkemajuan. Dosen Muhammadiyah tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga melahirkan generasi intelektual yang berkarakter Islam. Pengusaha Muhammadiyah tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga memperkuat kemandirian umat, memberikan bantuan melalui filantropi dan pemberdayaan kader. Profesionalisme yang berpijak pada nilai-nilai Islam akan melahirkan kebermanfaatan yang jauh lebih luas.
Mengasah batin juga berarti berani melakukan evaluasi terhadap pola kaderisasi yang berkembang selama ini. Kaderisasi tidak cukup berhenti pada proses rekrutmen atau pelatihan awal, tetapi harus berlanjut melalui pembinaan berkelanjutan, penugasan, mentoring, dan regenerasi kepemimpinan yang terencana. Muhammadiyah memerlukan sistem kaderisasi yang mampu menjaga kesinambungan antara nilai ideologis, kapasitas intelektual, keterampilan profesional, dan kepemimpinan sosial. Kader tidak hanya tumbuh menjadi individu yang sukses, tetapi juga menjadi penggerak perubahan yang memiliki loyalitas tinggi terhadap cita-cita Persyarikatan.
Pada akhirnya, memikirkan kader adalah bentuk jihad intelektual sekaligus jihad kemanusiaan. Amal usaha dapat dibangun dengan dana, teknologi dapat dibeli dengan investasi, dan gedung dapat didirikan dengan perencanaan yang baik. Namun, kader yang memiliki keikhlasan, integritas, kecerdasan, dan komitmen ideologis hanya dapat lahir melalui proses pembinaan yang panjang serta keteladanan yang konsisten, Keberpihakan melalui kebijakan pimpinan. Karena itu, investasi terbesar Muhammadiyah sesungguhnya bukan pada aset material, melainkan pada manusia yang siap menghidupkan nilai-nilai Islam dalam perserikatan, amal usaha dan kehidupan yang berkemajuan.
Di tengah badai profesionalisme dan kemapanan individu, Muhammadiyah memerlukan kader-kader yang tetap memiliki hati yang terpaut kepada Persyarikatan. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memandang jabatan sebagai amanah, ilmu sebagai sarana pengabdian, dan keberhasilan sebagai jalan memperluas kemaslahatan. Ketika batin terus diasah untuk memikirkan masa depan kader, Muhammadiyah tidak hanya akan bertahan menghadapi perubahan zaman, tetapi juga akan terus menjadi gerakan tajdid yang melahirkan pemimpin-pemimpin berintegritas, berilmu, berakhlak mulia, dan sepenuhnya mengabdikan dirinya bagi kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.