Pemulis: Yuliana
Muhammadiyah telah berdiri lebih dari satu abad dan terus memberi manfaat bagi bangsa melalui dakwah, pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Di balik besarnya Persyarikatan ini, ada satu kekuatan yang menjadi penopang utama, yaitu komitmen kader. Tanpa kader yang memiliki komitmen kuat, sebesar apa pun organisasi tidak akan mampu mempertahankan apalagi mengembangkan perannya di tengah perubahan zaman.
Komitmen kader bukan sekadar tercermin dari kehadiran dalam rapat atau kesediaan menjadi pengurus. Komitmen sejati terlihat dari kesediaan meluangkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan terkadang harta demi kemajuan Persyarikatan. Menjadi kader Muhammadiyah berarti siap mengabdi, bukan mencari keuntungan pribadi. Jabatan hanyalah amanah, sedangkan pengabdian adalah nilai yang harus terus dijaga.
Di era modern, tantangan kader semakin besar. Kesibukan pekerjaan, tuntutan ekonomi, hingga derasnya arus digital sering kali membuat semangat berorganisasi menurun. Tidak sedikit kader yang bangga menyandang identitas Muhammadiyah, tetapi belum sepenuhnya aktif berkontribusi dalam kegiatan Persyarikatan. Padahal, Muhammadiyah tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya mengaku sebagai kader, melainkan oleh mereka yang rela bekerja dalam diam, ikhlas melayani, dan konsisten berbuat.
Komitmen juga berarti kesiapan untuk terus belajar. Kader Muhammadiyah harus mampu meningkatkan kapasitas diri, menguasai perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan memiliki wawasan keumatan yang luas. Dengan demikian, Muhammadiyah akan tetap menjadi gerakan Islam yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar.
Namun, komitmen kader tidak akan tumbuh dalam ruang yang tertutup. Organisasi juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan ruang berkarya, membangun budaya apresiasi, dan menciptakan regenerasi yang sehat. Kader muda harus diberi kesempatan untuk berinisiatif, berpendapat, dan memimpin. Mereka bukan sekadar pelaksana program, tetapi calon pemimpin Muhammadiyah di masa depan.
Sudah saatnya setiap kader bertanya kepada diri sendiri, bukan “Apa yang telah diberikan Muhammadiyah kepada saya?” tetapi “Apa yang sudah saya berikan untuk Muhammadiyah?” Pertanyaan sederhana ini akan mengubah cara pandang dari menuntut menjadi mengabdi, dari mencari posisi menjadi mencari kontribusi.
Pada akhirnya, kemajuan Muhammadiyah tidak ditentukan oleh megahnya gedung, banyaknya amal usaha, atau besarnya jumlah anggota. Kemajuan Muhammadiyah ditentukan oleh kualitas komitmen kadernya. Ketika setiap kader memiliki keikhlasan, integritas, semangat berkhidmat, dan rasa memiliki yang tinggi terhadap Persyarikatan, maka Muhammadiyah akan terus menjadi gerakan Islam yang berkemajuan, memberi pencerahan bagi umat, dan menghadirkan solusi bagi bangsa.
Komitmen bukan diukur dari seberapa lama seseorang berada di Muhammadiyah, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ia berikan untuk kemajuan Muhammadiyah.