Anak Kita Kekurangan Rem, Bukan Nasihat

Awal tahun ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan Indonesia berada dalam kondisi darurat eksploitasi seksual anak berbasis daring. Pernyataan itu tentu bukan sekadar kepanikan. Ada angka yang membuat kita sulit menganggap persoalan ini sebagai kasus yang berdiri sendiri. Dalam empat tahun terakhir, lebih dari 5,5 juta laporan konten pornografi anak yang melibatkan anak Indonesia masuk ke National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC). Data PPATK yang dikutip KPAI bahkan menyebut hampir 24 ribu anak berusia 10–18 tahun diduga menjadi korban eksploitasi seksual daring. Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian kasus melibatkan orang-orang yang justru dikenal korban, mulai dari teman sebaya, teman dekat lawan jenis, hingga orang-orang terdekat di lingkungan rumah dan sekolah.

Angka sebesar itu mungkin terasa terlalu jauh sampai suatu pagi sebuah video berdurasi kurang dari dua menit masuk ke grup WhatsApp sekolah. Seseorang memperbesar layar. Yang lain mulai menebak-nebak siapa yang ada di dalamnya. Ada yang bertanya sekolahnya, ada yang mencari nama, dan entah bagaimana selalu ada pula yang bertanya, “Link lengkapnya ada?”

Di titik seperti itu, kita menyadari satu hal yang agak menyedihkan tentang internet, disudut ruangan korban mungkin belum selesai menangis, tetapi orang lain sudah sibuk mencari tontonan berikutnya.

Beberapa bulan terakhir, kejadian semacam ini terus bermunculan berganti nama. Video intim pelajar beredar, orang tua dipanggil sekolah, polisi turun tangan, nama sekolah ikut terseret, masyarakat ramai berkomentar, lalu perhatian publik berpindah kepada kasus berikutnya. Internet memang cepat berpindah. Sayangnya, kehidupan korban tidak bekerja secepat itu. Apa yang bagi warganet selesai dalam satu malam dapat menjadi beban yang dibawa seorang anak bertahun-tahun.

Anak-Anak Kita Sebenarnya Sudah Tahu

Yang menarik untuk dipikirkan bukan hanya bagaimana video itu bisa tersebar, tetapi mengapa seseorang sampai menekan tombol rekam. Bukankah anak-anak hari ini tahu bahwa sekali sebuah file keluar dari ponsel, pemiliknya hampir tidak mungkin lagi mengendalikan ke mana file itu pergi? Bukankah mereka tahu bahwa jejak digital dapat bertahan jauh lebih lama daripada rasa penasaran yang mendorong seseorang mengunggahnya?

Jawaban paling mudah adalah menyalahkan anak. Kita mengatakan generasi sekarang kebablasan, kurang pengawasan, terlalu bebas menggunakan gawai, atau terlalu cepat mengenal hal-hal yang belum semestinya mereka kenal. Semua itu mungkin memiliki bagian dari kebenaran, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan persoalannya.

Sebab generasi sekarang justru merupakan generasi yang paling banyak menerima informasi. Mereka tahu bahaya hubungan seksual di usia remaja, mengetahui risiko kehamilan yang tidak direncanakan, memahami penyakit menular seksual, bahkan sering kali lebih cepat memahami pengaturan privasi dan keamanan digital dibanding orang tuanya. Mereka dapat menjelaskan bagaimana akun diretas, bagaimana foto disimpan di cloud, bahkan bagaimana jejak digital dapat ditemukan kembali.

Lalu mengapa pengetahuan itu tidak selalu membuat mereka berhenti?

Pertanyaan ini penting karena persoalan serupa sebenarnya terjadi di banyak tempat. Orang berjudi daring meskipun tahu peluang kalah lebih besar daripada menang. Pelajar menggunakan AI untuk mengerjakan tugas tanpa berpikir meskipun sadar bahwa kemampuan berpikirnya sendiri sedang dikorbankan. Remaja ikut balap liar meskipun tahu risikonya. Kita sendiri sering mengatakan hanya akan membuka media sosial selama lima menit, lalu tiba-tiba menyadari malam sudah terlalu larut.

Jadi, mungkin masalah pendidikan kita bukan kekurangan informasi.

Kita terlalu sering mengira bahwa mengetahui yang benar otomatis membuat manusia melakukan yang benar. Padahal, manusia tidak hanya digerakkan oleh pengetahuan. Ada dorongan, emosi, rasa ingin diterima, rasa penasaran, kebutuhan mendapatkan pengakuan, dan keinginan memperoleh kesenangan seketika yang kadang bergerak lebih cepat daripada pertimbangan akal.

Rem yang Kalah Cepat dari Dorongan

Psikolog Walter Mischel melalui eksperimen marshmallow menunjukkan pentingnya kemampuan menunda kepuasan. Perdebatan ilmiah mengenai eksperimen tersebut memang berkembang dan tidak sesederhana kesimpulan populer “anak yang mampu menunggu pasti lebih sukses”. Namun, gagasan besarnya tetap relevan yaitu kemampuan mengatur dorongan merupakan keterampilan penting yang dapat dikembangkan, bukan sekadar sifat bawaan yang dimiliki atau tidak dimiliki seseorang.

Di sinilah persoalan pendidikan kita terbuka.

Kita sangat rajin mengajarkan anak tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Kita menjelaskan bahaya pornografi, bahaya judi, bahaya narkoba, bahaya media sosial, bahaya pergaulan bebas, dan sederet bahaya lainnya. Tetapi apakah kita cukup sering melatih mereka untuk berhenti ketika dorongan sedang berada pada titik paling kuat?

Anak mungkin tahu bahwa mengirim foto pribadi adalah tindakan berisiko. Namun, ketika sedang jatuh cinta, sedang percaya kepada seseorang, atau sedang takut kehilangan hubungan, pengetahuan itu dapat kalah dalam beberapa detik. Anak mungkin tahu bahwa membalas komentar dengan kemarahan akan memperpanjang masalah, tetapi jempol sering bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

Artinya, pendidikan karakter tidak cukup berhenti pada kemampuan membedakan benar dan salah. Anak juga perlu memiliki kemampuan untuk memberi jeda antara dorongan dan tindakan.

Barangkali jeda itulah yang selama ini kita sebut sebagai rem.

Algoritma Tidak Pernah Mengajarkan Berhenti

Persoalannya menjadi lebih rumit karena anak-anak kita hidup di lingkungan digital yang memang dirancang agar mereka terus melihat, terus mengeklik, terus merespons, dan terus kembali.

Jonathan Haidt dalam The Anxious Generation mengingatkan bahwa kehidupan anak-anak telah mengalami perubahan besar akibat teknologi berbasis layar dan media sosial. Dunia digital memberikan rangsangan yang hampir tidak pernah berhenti. Notifikasi datang, video berikutnya muncul, komentar menunggu balasan, dan jumlah like dapat menjadi ukuran baru tentang apakah seseorang merasa diterima.

Dalam situasi seperti itu, kemampuan untuk berhenti bukan lagi perkara sederhana.

Kamera yang dahulu hanya digunakan untuk menyimpan kenangan sekarang dapat menjadi alat untuk mendapatkan perhatian. Pertemanan dapat berubah menjadi pertunjukan. Hubungan asmara dapat didokumentasikan. Bahkan kehidupan pribadi yang semestinya menjadi ruang paling aman perlahan berubah menjadi bahan yang siap dibagikan.

Di sinilah pendidikan perlu mengambil posisi yang lebih serius. Anak bukan hanya perlu diajarkan bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga kapan harus meletakkan teknologi. Mereka perlu belajar bahwa tidak semua yang dapat direkam layak direkam, tidak semua yang dapat dibagikan layak dibagikan, dan tidak semua yang membuat penasaran harus segera dicoba.

Korban Jangan Dibebani Kesalahan

Ada persoalan lain yang juga sering luput. Ketika video intim seorang anak tersebar, perhatian publik sering justru tertuju kepada korban.

Mengapa mau direkam?

Mengapa percaya kepada pacar?

Mengapa tidak berhati-hati?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin dimaksudkan sebagai pelajaran agar kejadian tidak terulang. Namun, jika tidak hati-hati, pertanyaan tersebut justru memindahkan beban kepada orang yang sudah menjadi korban.

Tanggung jawab seharusnya tidak berhenti pada orang yang berada paling lemah. Orang yang menyebarkan, orang yang sengaja mencari dan mengedarkan kembali, lingkungan yang menormalisasi tontonan semacam itu, serta platform digital yang memungkinkan penyebaran berlangsung cepat juga perlu menjadi bagian dari pembicaraan.

Kita perlu membedakan antara mendidik anak agar lebih berhati-hati dan menyalahkan korban atas tindakan orang lain. Keduanya bukan hal yang sama.

Kita Perlu Melatih Rem, Bukan Menambah Nasihat

Barangkali di sinilah pendidikan perlu sedikit mengubah arah. Anak-anak kita tidak kekurangan nasihat. Mereka bahkan mungkin sudah terlalu sering mendengar nasihat yang sama.

Yang kurang adalah latihan.

Latihan untuk menunggu sebelum membalas pesan ketika sedang marah. Latihan untuk berpikir tentang akibat sebelum mengunggah sesuatu. Latihan untuk mengatakan tidak ketika teman mengajak melakukan sesuatu yang berisiko. Latihan untuk tidak menganggap semua permintaan teman, alih-alih sebagai bentuk cinta yang harus dituruti. Latihan untuk mampu menerima bahwa tidak semua orang harus menyukai dirinya.

Kemampuan seperti itu tidak tumbuh dari satu kali seminar atau penyuluhan. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan terus-menerus.

Orang tua dapat memulainya dari hal sederhana dengan memberi contoh bahwa mereka sendiri tidak selalu harus segera membalas pesan, tidak selalu harus merekam segala sesuatu, dan tidak harus mengejar setiap notifikasi. Sekolah dapat mengajarkan literasi digital bukan hanya sebagai kemampuan mengenali bahaya internet, tetapi sebagai kemampuan mengendalikan diri ketika berhadapan dengan internet. Guru dapat mengajak anak membicarakan konsekuensi sebuah keputusan, bukan hanya menentukan apakah keputusan itu benar atau salah.

Sebab pada akhirnya, orang tua tidak akan selalu berada di samping anak. Guru juga tidak. Bahkan teman yang paling dekat pun tidak akan selalu hadir ketika sebuah keputusan harus dibuat.

Yang tersisa adalah sesuatu yang ada di dalam dirinya.

Sebuah rem yang bekerja ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Mungkin itulah karakter yang sesungguhnya ingin kita bangun. Bukan anak yang selalu patuh karena diawasi, melainkan anak yang mampu berhenti meskipun tidak ada yang mengawasi. Bukan anak yang hafal seribu larangan, melainkan anak yang mampu memberi jeda sebelum satu dorongan mengubah hidupnya.

Karena di zaman ketika satu klik dapat menyebarkan sesuatu kepada jutaan orang, mungkin pendidikan yang paling penting bukan lagi sekadar mengajarkan anak bagaimana menggunakan teknologi.

Kita perlu mengajarkan mereka kapan harus berhenti.

 

#Hanif Ikhsani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *