Ngolek Nggon: Antara Semangat Perjuangan, Das Sollen, Dan Das Sein

Penulis: Agus Supatma NGGALIMO

“Mas, aku burnout. Boleh nggak aku istirahat dulu dari organisasi? Mau fokus kerja dulu.”

“Mas Aku Galau, boleh gak off sebentar”

“Lur aku mau fokus keluarga dulu, wes duwe anak istri, Tak fokus kerjo

“mas aku, wayae rabi gek rung duwe gawean”

“mas aku golekno Bojo

“mas aku golekno gawean”

En lain-lain

Kalimat seperti itu rasanya bukan lagi sesuatu yang asing di telinga kader Pemuda Muhammadiyah. Tidak jarang ia muncul di grup WhatsApp menjelang dini hari, obrolan langsung, maupun curhat lalu disambut dengan balasan berupa stiker semangat atau kalimat motivasi. Ironisnya, mereka yang memberi semangat sering kali sedang mengalami kelelahan yang sama. Semua ingin tetap bertahan, tetapi tidak semua memiliki ruang yang cukup untuk memulihkan diri.

Realitas hari ini menuntut seorang kader menjadi sosok yang serba bisa. Ia diharapkan mampu berpidato, memimpin organisasi, mencari pendanaan, membuat desain publikasi, aktif bermedia sosial, sekaligus tetap mendalami ilmu agama. Di tengah tuntutan itu, ada satu kenyataan yang kerap terlupakan, yaitu bahwa kader tetaplah manusia. Manusia memiliki batas tenaga, pikiran, dan emosi. Karena itu, setiap orang membutuhkan kesempatan untuk ngolek nggon mencari tempat yang aman agar dapat beristirahat, menguatkan diri, lalu kembali melanjutkan perjuangan.

Dalam hal nggolek nggon ini bisa dimaknai sebagai mencari titik aman dalam hal pekerjaan, kehidupan, karir, percintaan ataupun jodoh. Tiap orang memiliki case tersendiri dalam setiap perjalanan hidupnya, sehingga persepektif mencari titik aman ini juga akan berbeda.

Pertanyaannya, apakah seorang kader boleh mencari titik aman dalam hidupnya? Jawabannya tentu boleh. Bahkan, jika ditelusuri lebih jauh, sikap tersebut bukanlah bentuk kemunduran, melainkan bagian dari kebijaksanaan yang telah diajarkan oleh Islam dan dicontohkan oleh para pendahulu Muhammadiyah.

Islam dan Muhammadiyah Mengajarkan Keseimbangan

Islam dibangun di atas prinsip Maqashid Syariah yang bertujuan menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Artinya, setiap aktivitas dakwah seharusnya tidak mengorbankan kebutuhan dasar manusia. Ketika seseorang memaksakan diri bekerja tanpa mengenal istirahat, mengabaikan kesehatan, terlilit persoalan ekonomi, lupa masalah jodoh, bahkan mengalami kelelahan mental demi mengejar citra “totalitas”, sesungguhnya ia sedang mengabaikan tujuan syariat itu sendiri, terutama dalam menjaga jiwa (hifzun nafs) dan menjaga harta (hifzul mal).

Keteladanan tersebut dapat ditemukan pada perjalanan KH. Ahmad Dahlan. Dalam rentang waktu sekitar tahun 1902 hingga 1912, beliau tidak serta-merta tampil sebagai tokoh pembaru yang berorasi di hadapan massa. Sebaliknya, beliau membangun fondasi melalui pengajian, pendidikan, dan pembinaan murid secara perlahan. Langkah itu menunjukkan bahwa gerakan besar selalu diawali dengan pencarian ruang yang kokoh untuk bertumbuh. Dengan kata lain, ngolek nggon bukanlah tanda menyerah, melainkan strategi untuk memperkuat pijakan sebelum melangkah lebih jauh.

Tiga Bentuk Titik Aman bagi Kader Berkemajuan

Bentuk pertama adalah aman secara ekonomi. Rasulullah SAW bersabda bahwa sebaik-baik makanan adalah hasil dari kerja tangan sendiri. Pesan ini mengajarkan bahwa bekerja secara halal merupakan bagian dari ibadah. Tidak sedikit kader yang begitu larut dalam aktivitas organisasi hingga melupakan tanggung jawab terhadap keluarga dan kebutuhan hidupnya sendiri. Akibatnya, semangat dakwah justru berubah menjadi beban bagi orang lain. Karena itu, bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah, perusahaan yang halal, ataupun profesi lain yang baik merupakan pilihan yang mulia selama tetap menjaga semangat pengabdian.

Bentuk kedua adalah aman secara mental. Dakwah bukan perlombaan lari jarak pendek yang harus diselesaikan secepat mungkin, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan daya tahan. Imam Al-Ghazali mengibaratkan hati manusia seperti besi yang terus-menerus dipanaskan; jika tidak didinginkan, ia akan retak. Maka, meluangkan waktu bersama keluarga, menikmati liburan singkat, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, atau sekadar beristirahat dari rutinitas organisasi bukanlah kemewahan. Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kualitas jiwa agar tetap mampu berdakwah dalam jangka panjang.

Bentuk ketiga adalah aman dalam menemukan peran. Tidak semua kader harus tampil sebagai orator atau pemimpin organisasi. Rasulullah SAW sendiri membangun tim dengan keunggulan yang berbeda-beda. Abu Bakar dikenal sebagai sosok yang lembut dan strategis, Umar tegas dalam kepemimpinan, Utsman unggul dalam pengelolaan ekonomi, sedangkan Ali menjadi rujukan dalam ilmu pengetahuan. Begitu pula di Muhammadiyah. Ada yang mengabdi melalui Tarjih, Lazismu, pendidikan, kesehatan, teknologi, maupun kewirausahaan. Menemukan posisi yang sesuai dengan kemampuan bukan berarti menghindari tanggung jawab, tetapi justru merupakan bentuk efektivitas dalam berjuang.

Kapan “Ngolek Nggon” Menjadi Keliru?

Meski demikian, mencari titik aman tetap memiliki batas-batas moral. Pertama, ketika ia dijadikan alasan untuk lari dari amanah. Seseorang yang telah menerima tanggung jawab sebagai ketua atau pengurus, lalu menghilang ketika organisasi menghadapi persoalan, tentu tidak dapat dibenarkan. Dalam nilai Islam, sikap seperti ini menyerupai lari dari medan perjuangan (firar minaz zahf).

Kedua, ketika rasa aman dicari melalui jalan yang diharamkan. Misalnya dengan menerima praktik riba, melakukan manipulasi proyek, atau memperoleh jabatan melalui cara yang zalim. Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah telah menegaskan larangan terhadap praktik-praktik tersebut. Jalan yang haram mungkin memberi kenyamanan sesaat, tetapi tidak akan pernah menghadirkan keberkahan.

Ketiga, ketika seseorang telah memperoleh kehidupan yang mapan, tetapi kemudian memutus hubungan dengan organisasi dan melupakan proses yang telah membesarkannya. Padahal, hakikat ngolek nggon adalah mencari tempat untuk menguatkan diri, bukan tempat untuk melupakan perjuangan. Orang Jawa mengungkapkannya dengan sederhana, “Ngolek nggon kanggo nguatke, dudu kanggo lali.” Bukan juga kalu lapar galak, kalau kenyang bego

Belajar dari Peristiwa Hijrah

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW merupakan teladan paling jelas mengenai pentingnya mencari lingkungan yang kondusif. Allah memerintahkan Rasulullah meninggalkan Makkah menuju Madinah karena kondisi di Makkah sudah tidak lagi memungkinkan dakwah berkembang. Hijrah bukanlah bentuk kekalahan, melainkan strategi untuk menjaga keberlangsungan risalah Islam.

Di Madinah, Rasulullah membangun masjid sebagai pusat peradaban, menyusun Piagam Madinah sebagai dasar kehidupan bersama, memperkuat ekonomi umat, dan membentuk masyarakat yang kokoh. Setelah fondasi itu berdiri, dakwah Islam berkembang jauh lebih luas. Pesan ini relevan hingga hari ini. Berpindah dari lingkungan yang toksik menuju lingkungan yang lebih sehat, mencari pekerjaan yang lebih baik, atau mengambil jeda dari aktivitas tertentu demi menjaga iman dan kualitas diri dapat menjadi bagian dari makna hijrah jika diniatkan untuk memperkuat pengabdian.

Di Antara Das Sollen dan Das Sein

Dalam perspektif filsafat, kehidupan manusia selalu berada di antara dua kutub. Yang pertama adalah Das Sollen, yaitu dunia ideal tentang apa yang seharusnya dilakukan. Di dalamnya terdapat panggilan untuk berjuang, berkorban, mengabdi, dan menjadi kader yang terbaik⁹. Nilai ini penting karena menjadi kompas moral yang menjaga arah gerakan.

Di sisi lain terdapat Das Sein, yakni kenyataan yang sedang dihadapi. Ada kondisi ekonomi yang belum stabil, kesehatan yang menurun, tanggung jawab keluarga, hingga kelelahan fisik maupun mental. Semua itu adalah fakta kehidupan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Mengakui realitas bukan berarti kehilangan idealisme, melainkan bentuk kejujuran terhadap keadaan diri.

Kader yang sehat bukanlah mereka yang hanya hidup dalam dunia ideal ataupun yang sekadar mengikuti keadaan. Kader yang berkemajuan adalah mereka yang mampu menjembatani Das Sollen dan Das Sein. Ketika idealisme menuntut seseorang menjadi profesional, tetapi kenyataannya ia belum mendapatkan kesempatan untuk belajar maupun berkesempatan dalam bekerja, maka ia dapat terlebih dahulu belajar dan juga mengamalkan ilmunya Setelah memiliki kapasitas yang memadai, ia kembali mengabdi dengan bekal yang lebih kuat. Dalam khazanah Islam, cara berpikir seperti ini dikenal sebagai fiqh al-ma’alat, yaitu mempertimbangkan akibat dan kemaslahatan dalam setiap keputusan.

Penutup: Menjadi Kader yang Berumur Panjang dalam Perjuangan

Saudaraku, jika hari ini engkau merasa lelah, beristirahatlah. Jika harus bekerja untuk menata kehidupan, bekerjalah. Jika memang perlu mengambil jeda dari aktivitas organisasi, lakukanlah dengan penuh tanggung jawab. Semua itu merupakan bentuk penghormatan terhadap Das Sein, kenyataan bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Namun, jangan biarkan titik aman berubah menjadi titik nyaman yang membuat kita berhenti berjuang. Setelah tenaga pulih, ekonomi lebih stabil, dan kapasitas meningkat, kembalilah kepada Das Sollen kepada cita-cita besar yang dahulu menggerakkan langkah kita. Sebab tanpa idealisme, seseorang hanya akan sibuk mengejar kenyamanan pribadi.

Ada tiga hal yang layak terus dijaga. Pertama, menjaga koneksi dengan persyarikatan melalui pengajian, silaturahmi, dan aktivitas dakwah agar api idealisme tidak padam. Kedua, menjaga prinsip sehingga di mana pun kita bekerja, nilai-nilai Islam dan Himpunan Putusan Tarjih tetap menjadi pedoman. Ketiga, selalu memperbarui niat bahwa setiap usaha mencari titik aman semata-mata dilakukan agar kelak mampu memberi manfaat yang lebih besar bagi umat.

KH. Ahmad Dahlan pernah berpesan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Pesan ini tidak berarti melarang kader mencari nafkah. Mencari rezeki dapat dilakukan di mana saja selama halal dan bermartabat. Yang terpenting adalah memastikan bahwa ilmu, tenaga, pikiran, dan pengalaman yang kita miliki tetap diabdikan untuk menghidupkan Muhammadiyah dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pada akhirnya, dakwah terbaik bukanlah dakwah yang paling lantang terdengar, melainkan dakwah yang mampu bertahan paling lama. Napas perjuangan yang panjang hanya dimiliki oleh kader yang berani hidup jujur, menjaga keseimbangan antara idealisme Das Sollen dan realitas Das Sein. Dari titik aman itulah, perjuangan dapat terus dilanjutkan dengan lebih matang, lebih kuat, dan lebih berkemajuan.

Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *